PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal
Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani
BAB II
KAJIAN KENABIAN
URAIAN MENGENAI KEISTIMEWAAN NABI, SUBSTANSI KENABIAN,
KEMANUSIAAN DAN SUBSTANSI KEHIDUPAN BARZAKH
KEISTIMEWAAN YANG MELEKAT
PADA NABI MUHAMMAD
DAN SIKAP ULAMA
TERHADAPNYA
Para
ulama memberikan perhatian besar terhadap keistimewaan-spesikasi kenabian
dengan menyusun karangan, memberikan komentar (syarh), menyatukan dan menyendirikannya dalam sebuah kajian. Karya
paling populer dan lengkap adalah Al-Khashaaish
Al-Kubraa yang disusun oleh Al-Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
Keistimewaan-keistimewaan ini sangat banyak jumlahnya. Ada yang sanadnya shahih ada yang tidak. Ada yang dipersengkatakan ulama. Sebagian memandang shahih sebagian tidak. Persoalan ini adalah persoalan khilafiah.
Keistimewaan-keistimewaan ini sangat banyak jumlahnya. Ada yang sanadnya shahih ada yang tidak. Ada yang dipersengkatakan ulama. Sebagian memandang shahih sebagian tidak. Persoalan ini adalah persoalan khilafiah.
Perbincangan antar ulama mengenai
keistimewaan-keistimewaan kenabian ini semenjak dahulu berputar di sekitar
benar, salah, sah dan batal, bukan antara kufur dan iman. Para
ulama berselisih dalam banyak hadits. Mereka saling membantah dalam menilai
kesahihan, kelemahan atau dalam penolakannya karena perbedaan perspektif dalam
menilai sanad dan kredibilitas perawinya. Siapapun yang menilai shahih terhadap
hadits dla’if, menilai dla’if terhadap hadits shahih, menetapkan hadits yang
ditolak atau menetapkan hadits yang ditetapkan dengan argumentasi, ta’wil atau
syubhat dalil maka ia telah menempuh metode para ulama dalam melakukan kajian
dan analisa.
Dan hal ini adalah haknya
layaknya manusia yang berakal dan memiliki pemahaman. Kesempatan terbuka, medan terbentang luas dan
ilmu tersebar bagi semua manusia.
Imam orang-orang berakal, junjungan para ulama, Nabi paling agung dan rasul paling mulia Muhammad SAW telah memberi motivasi untuk melakukan kajian dan analisa. Karena beliau menetapkan dua pahala bagi mujtahid yang mencapai kebenaran dan satu pahala bagi yang gagal mencapainya.
Imam orang-orang berakal, junjungan para ulama, Nabi paling agung dan rasul paling mulia Muhammad SAW telah memberi motivasi untuk melakukan kajian dan analisa. Karena beliau menetapkan dua pahala bagi mujtahid yang mencapai kebenaran dan satu pahala bagi yang gagal mencapainya.
KITAB-KITAB SALAF DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN
Seandainya kita mau kembali kepada kitab-kitab salaf niscaya kita akan menemukan banyak ulama dan para pakar fiqh menyebutkan sejumlah keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW dalam kitab-kitab tersebut. Dari keistimewaan-keistimewaan ini mereka mengutip hal-hal ajaib dan aneh. Seandainya dalam menerima keistimewaan-keistimewaan ini orang yang melakukan kajian terpaku pada kesahihan sanad niscaya ia hanya akan menemukan sangat sedikit yang bersih dari keistimewaan-keistimewaan itu dibandingkan dengan jumlah yang mereka kutip. Penyebutan sejumlah keistimewaan-keistimewaan dalam kitab-kitab salaf ini tetap berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan para ulama dalam persoalan ini.
IBNU TAIMIYYAH DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN
Ibnu Taimiyyah terkenal dengan sikapnya yang ketat. Dalam kitab-kitabnya, ia mengutip sebagian pendapat mengenai keistimewaan-keistimewaan kenabian yang sanadnya tidak sahih. Ia menggunakannya sebagai argumentasi dalam banyak masalah dan menilainya bisa dijadikan pedoman dalam memberikan penjelasan atau menguatkan hadits yang ia tafsirkan. Sebagian dari pendapat yang ia kutip misalnya adalah ucapannya dalam Al-Fataawaa al-Kubraa, “Telah diriwayatkan bahwa Allah SWT telah menulis nama Nabi Muhammad SAW pada ‘Arsy dan pintu, kubah serta dedaunan surga.” Dalam hal ini telah diriwayatkan pula sejumlah atsar yang senada dengan hadits-hadits yang ada yang menjelaskan sanjungan terhadap nama Nabi dan peninggian sebutan beliau SAW saat ia mengatakan, “Telah disebutkan teks hadits yang terdapat dalam Al-Musnad dari Maisarah Al-Fajr saat Nabi ditanya, “Kapan engkau menjadi Nabi ?” “Saat Adam masih dalam kondisi antara ruh dan jasad,” jawab beliau.
Hadits ini juga telah
diriwayatkan oleh Abul Husain ibn Busyran dari jalur As-Syaikh Abi Al-Faraj Ibnul
Jauzi dalam Al-Wafaa bi Fadlaaili al-Mushthafa
SAW sbb : Bercerita kepadaku Abu Ja’far Muhammad ibn ‘Umar, bercerita
kepadaku Ahmad ibn Ishaq ibn Shalih, bercerita kepadaku Muhammad ibn Sinan Al
‘Aufi, bercerita kepadaku, bercerita kepadaku Ibrahim ibn Thuhman dari Yazid
ibn Maisarah dari Abdillah ibn Sufyan dari Maisarah, ia berkata, Saya bertanya,
“Wahai Rasulullah, kapankah engkau menjadi Nabi ?”
لما خلق الله الأرض
واستوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وخلق العرش كتب على ساق العرش محمد رسول الله
خاتم الأنبياء ، وخلق الجنة التي أسكنها آدم وحواء فكتب اسمي على الأبواب والأوراق
والقباب والخيام وآدم بين الروح والجسد ، فلما أحياه الله تعالى نظر إلى العرش
فرأى اسمي فأخبره الله أنه سيد ولدك ،
فلما غرهما الشيطان تابا واستشفعا باسمي إليه
“Ketika Allah menciptakan bumi dan
menuju ke langit kemudian langit dijadikan-Nya tujuh lapis dan menciptakan ‘Arsy
maka Allah menulis pada batang ‘Arsy Muhammadun
Rasulullahi Khatamul Anbiyaa’. Dan ketika Allah menciptakan sorga yang
didiami Adam dan Hawa maka Allah menulis namaku pada pintu, dedaunan, kubah dan
kemah sedang Adam dalam kondisi antara ruh dan jasad. Saat Allah menghidupkan
Adam, ia memandang ‘Arsy lalu melihat namaku. Kemudian Allah memberitahukan
kepada Adam bahwa Muhammad adalah Junjungan anak cucumu. Waktu syetan berhasil
memperdayai Adam dan Hawa, keduanya bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah
dengan namaku,” jawab Nabi. Al-Fataawaa
vol. II hlm. 151.
IBNU TAIMIYYAH DAN
KAROMAH :
Keistimewaan dan karomah itu identik dilihat dari aspek hukum, pengutipan, dan tidak diperlukannya upaya ketat sebagaimana upaya ketat dalam mengutip hukum-hukum dari halal dan haram. Keistimewaan dan karomah berada dalam wilayah sikap-sikap terpuji dan keutamaan-keutamaan.
Berangkat dari fakta ini, sikap
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyangkut karomah para wali sama persis dengan
sikapnya mengenai keistimewaan-keistimewaan para Nabi.
Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal. Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dla’if, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama.
Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal. Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dla’if, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama.
Di antara kutipan-kutipan dari
Ibnu Taimiyyah tentang karomah sebagian sahabat adalah sebagai berikut :
- Ummu Aiman pergi berhijrah tanpa membawa bekal dan air hingga ia hampir mati karena kehausan. Saat tiba waktu berbuka –ia sedang berpuasa– ia mendengar di atas kepalanya ada suara halus. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Ternyata ada timba menggantung. Kemudian ia minum dari timba tersebut sampai merasa segar dan tidak merasakan haus dalam sisa hidupnya.
- Sebuah perahu mantan budak Rasulullah SAW memberitahu kepada seekor singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah. Akhirnya singa tersebut berjalan bersamanya sampai mengantarkan menuju tempat tujuannya.
- Al-Bara’ ibn Malik jika bersumpah atas Allah maka Allah akan merealisasikan sumpahnya. Jika dalam situasi perang memberatkan kaum muslimin dalam berjihad, mereka akan berteriak, “Wahai Bara’! bersumpahlah atas Tuhanmu.” “Ya Rabbi, aku bersumpah atas-Mu , berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami,” sumpah Bara’. Akhirnya musuh pun mengalami kekalahan. Ketika berlangsung perang Qadisiyyah, Bara’ bersumpah, “Aku bersumpah atas-Mu, ya Rabbi, berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami dan jadikan aku orang pertama yang mati syahid.” Akhirnya kaum muslimin diberi bahu-bahu orang-orang kafir dan Bara’ sendiri terbunuh sebagai syahid.
- Khalid ibn Al-Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh. “Kami tidak akan menyerah sampai kamu minum racun,”kata orang-orang kafir. Akhirnya Khalid minum racun dan racun itu tidak menimbulkan efek apa-apa.
- Ketika mengirimkan bala tentara, ‘Umar ibn Al-Khatthab mengangkat seorang lelaki bernama Sariyah sebagai pemimpin pasukan. Ketika sedang berkhutbah di atas mimbar tiba-tiba ‘Umar berteriak, “Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung. Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung.” Saat utusan bala tentara datang, ‘Umar bertanya kepadanya, yang kemudian dijawab, “Wahai Amirul Mu’minin!, Kami bertemu musuh dan mereka berhasil mengalahkan kami. Tiba-tiba ada suara orang berteriak : “Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung.” Akhirnya kami pun tetap berada di gunung, hingga Allah mengalahkan mereka.
- ‘Ala’ ibn Al-Hadlrami adalah gubernur Rasulullah untuk wilayah Bahrain. Dalam do’a yang dipanjatkannya ia berkata, “Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Sabar, wahai Dzat Yang Maha Tinggi, wahai Dzat Yang Maha Agung.” Maka do’anya pun dikabulkan. Ia juga pernah berdo’a agar orang-orang diberi hujan dan bisa berwudlu ketika mereka mengalami ketiadaan air dan hujan untuk sesudah mereka lalu do’anya pun dikabulkan. Waktu bala tentara muslimin terhalang oleh laut dan tidak mampu menyeberangkan kuda-kuda mereka, ia berdo’a hingga akhirnya mereka bisa melewati laut dengan pelana kuda yang tidak basah oleh air. Ia juga berdo’a agar ketika mati jasadnya tidak bisa dilihat orang. Akhirnya ketika mati orang-orang tidak menemukan jasadnya di liang lahat.
- Karomah seperti di muka juga terjadi pada Abu Muslim
Al-Khaulani saat ia diceburkan ke dalam api. Ceritanya ketika ia bersama
teman-teman pasukannya berjalan di atas sungai Tigris.
Dari bentangannya sungai itu melemparkan lalu Abu Muslim menoleh kepada
teman-temannya. “Periksalah barang-barang kalian hingga aku berdo’a kepada
Allah!” perintahnya. “Saya kehilangan keranjang rumput,” kata sebagian
temannya. “Ikuti saya,” kata Abu Muslim. Teman yang kehilangan keranjang
rumput pun mengikutinya dan menemukan keranjang itu menyangkut pada
sesuatu lalu memungutnya. Al-Aswad Al-‘Ansi ketika mengklaim sebagai Nabi,
mencari Abu Muslim.
“Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” tanya Al-Aswad kepada Abu Muslim.
“Saya tidak bisa mendengar,” jawab Abu Muslim
“Apakah kamu
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ?”
“Betul.”
Akhirnya Al-Aswad menyuruh Abu Muslim dimasukkan ke dalam api. Ia akhirnya dimasukkan kedalam api namun mereka melihat Abu Muslim sedang shalat di tengah kobaran api itu. Api telah menjadi dingin dan menyelamatkan baginya.
Akhirnya Al-Aswad menyuruh Abu Muslim dimasukkan ke dalam api. Ia akhirnya dimasukkan kedalam api namun mereka melihat Abu Muslim sedang shalat di tengah kobaran api itu. Api telah menjadi dingin dan menyelamatkan baginya.
Setelah Nabi
wafat Abu Muslim datang ke Madinah. “Umar menyuruhnya duduk antara dirinya dan
Abu Bakar As-Shiddiq. “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sampai aku
melihat dari ummat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana Ibrahim
kekasih Allah.” Kata ‘Umar.
Karomah yang
lain yaitu, ketika seorang budak wanita memasukkan racun pada makanannya dan
racun itu tidak membahayakannya.
Begitu juga
ketika seorang perempuan menipu istrinya. Akhirnya perempuan itu ia kutuk dan
akhirnya menjadi buta. Perempuan itu lalu datang dan bertaubat. Abu Muslim pun
akhirnya mendo’akannya hingga Allah mengembalikan kembali penglihatannya.
- Sa’id ibn Al-Musayyib dalam peperangan pada era Yazid ibn Mu’awiyah mendengar adzan dari kuburan Rasulullah pada waktu-waktu shalat padahal masjid telah sepi tidak ada orang lain selain dirinya.
- ‘Umar ibn ‘Uqbah ibn Farqad suatu hari shalat di siang hari yang sangat panas lalu mendung pun memayunginya. Binatang buas melindunginya saat ia mengawasi kereta-kereta teman-temannya, karena ia disyaratkan untuk membantu mereka waktu perang.
- Mutharrif ibn ‘Abdillah ibn Syikhkhir jika masuk rumah maka wadah-wadah miliknya ikut bertasbih bersamanya. Ia dan temannya pernah berjalan berdua dalam kegelapan kemudian ujung cambuknya menerangi keduanya.
Dikutip dari Al-Fataawaa al-Kubraa karya Syaikh Ibnu Taimiyyah vol. XI hlm. 281.
SYAIKH IBNUL QAYYIM DAN DUDUKNYA NABI SAW DI ATAS ‘ARSY
SYAIKH IBNUL QAYYIM DAN DUDUKNYA NABI SAW DI ATAS ‘ARSY
Al-Imam Al-‘Allamah Syaikhul Islam Ibnul Qayyim telah mengutip keistimewaan yang aneh dan langka dan ia nisbatkan kepada banyak para imam salaf, yaitu ucapannya sebagai berikut :
(Faedah) : Al-Qadli berkata : “Al-Marwazi
telah menyusun sebuah kitab tentang keutamaan Nabi SAW. Di dalamnya ia
menyebutkan didudukkannya Nabi di atas ‘Arsy. Kata Al-Qadli, “Didudukkannya
Nabi di atas ‘Arsy ini adalah pendapat Abu Dawud, Ahmad ibn Ashram, Yahya ibn
Abi Thalib, Abi Bakr ibn Hammad, Abi Ja’far Ad-Dimasyqi, ‘Iyasy ad-Dawri, Ishaq
ibn Rahawiah, ‘Abdul Wahhab Al-Warraq, Ibrahim Al-Ashbihani, Ibrahim Al-Harbi,
Harun ibn Ma’ruf, Muhammad ibn Isma’il Al-Salami, Muhammad ibn Mush’ab Al-‘Abid,
Abi Bakr ibn Shadaqah, Muhammad ibn Bisyr ibn Syuraik, Abi Qilabah, Ali ibn
Sahl, Abi Abdillah ibn Abdinnur, Abi ‘Ubaid, Al-Hasan ibn Fadhl, Harun ibn Al
‘Abbas Al Hasyimi, Ismail ibn Ibrahim Al-Hasyimi, Muhammad ibn ‘Imran Al-Farisi
Az-Zahid, Muhammad ibn Yunus Al-Bashri, Abdullah ibn Al-Imam Ahmad Al-Marwazi
dan Bisyr Al-Hafi.
Syaikh Ibnul Qayyim berkata,
“Saya katakan bahwa duduknya Nabi SAW di atas ‘Arsy adalah pendapat Ibnu Jarir At-Thabari,
Imam dari semua ulama di atas yakni Mujahid Imamu at-Tafsir, dan juga pendapat
Abu Al-Hasan Ad-Daruquthni. Salah satu syair dari Ad-Daruquthni mengenai
duduknya Nabi di atas ‘Arsy adalah sebagai berikut :
حديث
الشفاعـة عن أحمد إلى أحمد المصطفـى
مسنـده
وجـاء
حديث بإقعــاده على العرش أيضاً فلا
نجحـده
أمرّوا
الحديث على وجهـه ولا تدخلـوا فيـه ما
يفسده
ولا
تنكـروا أنـه قاعـد ولا تنكـروا أنـه
يُقعــده
Hadits tentang syafaat dari Ahmad
Sanadnya sampai Ahmad Al-Mushthafa
Ada juga hadits tentang didudukkannya beliau
Di atas ‘Arsy , maka kita tidak
boleh mengingkarinya
Pahamilah hadits sesuai
teksnya
Janganlah memasukkan sesuatu yang
merusak maknanya
Jangan kalian ingkari bahwa Nabi
itu duduk
Dan jangan kalian ingkari bahwa
Allah telah mendudukkannya
(Dikutip dari Badaa’iul Fawaaid karya Syaikh Ibnul
Qayyim vol. IV hlm. 40)
MEMBUKA TABIR DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN YANG UNIK
MEMBUKA TABIR DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN YANG UNIK
Al-Faqih Al-‘Allamah As-Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya Kisyaafu Al-Qinaa’ menyebut sejumlah keistimewaan-keistomewaan Nabi SAW yang dinilai aneh oleh banyak orang yang kapasitas intelektualnya tidak mampu untuk memahami prinsip-prinsip dasar ini dan memahami kaidah-kaidah di atas.
Diantaranya adalah :
- Apa yang untuk kita dikategorikan najis itu suci untuk Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang lain. Diperboleh berobat menggunakan urine dan darah beliau SAW, berdasarkan hadits riwayat Ad-Daruquthni : Sesungguhnya Ummu Aiman meminum urine Nabi.” “Perut kamu tidak akan masuk neraka,” kata Nabi Saw, namun status hadits ini dla’if, dan juga berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dalam Al Dlu’afaa’ : “Seorang budak membekam Nabi SAW. Setelah selesai membekam ia minum darah Nabi.” “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan dengan darah?” tanya Nabi. “Darah itu telah aku masukkan dalam perutku,” jawab budak. “Pergilah ! engkau telah menjaga dirimu dari api neraka,” suruh Nabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa rahasia masuk surganya budak yang meminum darah bekam Nabi adalah karena tindakan kedua malaikat yang membasuh perutnya.
- Nabi tidak memiliki bayangan di bawah terpaan sinar matahari dan bulan. Karena Nabi itu makhluk cahaya sedangkan bayangan adalah jenis dari kegelapan. Keterangan ini disebut oleh Ibnu ‘Aqil dan yang lain. Fakta ini diperkuat oleh tindakan Nabi SAW yang memohon kepada Allah agar seluruh anggota badan dan seluruh arah mata angin dijadikan cahaya. Beliau juga mengakhir do’anya dengan “jadikanlah saya cahaya”.
- Bumi itu menelan kotoran-kotoran Nabi SAW, berdasarkan hadits-hadits.
- Kedudukan terpuji (al-maqam al-mahmud) adalah duduknya Nabi SAW di atas ‘Arsy. Dari ‘Abdullah ibn Salam : di atas kursi. Kedua riwayat ini disebutkan oleh Al-Baghawi.
- Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah menguap.
- Dan sesungguhnya diperlihatkan kepada Nabi SAW semua makhluk mulai Nabi Adam sampai manusia sesudahnya sebagaimana Adam diajari nama-nama segala sesuatu, berdasarkan hadits riwayat Al Dailami : “Dunia dicontohkan kepadaku dengan tanah liat dan air. Maka saya mengetahui segala sesuatu seluruhnya.” Ditampilkan kepada Nabi SAW semua ummatnya sehingga beliau bisa melihat mereka, berdasarkan hadits riwayat At-Thabarani : “Semalam di dalam kamar ditampilkan kepadaku ummatku, baik generasi awal maupun akhir. Mereka digambarkan kepadaku dengan air dan tanah liat sehingga saya mengenal salah satu dari mereka dengan temannya.” Kepada Nabi juga ditampilkan peristiwa yang bakal terjadi pada ummatnya hingga tiba hari kiamat berdasarkan hadits riwayat Ahmad dan perawi lain, yaitu : Diperlihatkan kepadaku apa yang dialami ummatku sepeninggal diriku. Mereka saling menumpahkan darah.
- Ziarah kubur Nabi SAW itu disunnahkan bagi para lelaki dan wanita, berdasarkan keumuman hadits riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,Rasulullah SAW bersabda :
- من حج وزار قبري بعد وفاتي فكأنما زارني في حياتي
"Barangsiapa
yang melaksanakan haji dan berziarah pada kuburanku setelah saya wafat, maka
seakan-akan ia berziarah padaku saat aku masih hidup."
(Kisyaafu Al-Qinaa’ vol. V hlm. 30, Dicetak atas instruksi raja
Faisal ibn Abdul Aziz dari dinasti Sa’udi).
Keistimewaan-keistimewaan di atas
yang telah disebut dan dikutip oleh para perawi ada sebagian yang shahih, ada
yang dla’if dan ada yang sama sekali tidak memiliki dalil.
Saya tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh orang yang menantang keajaiban-keajaiban yang telah dikutip para imam besar Ahlussunnah di atas. Para imam ini tidak menentang malah menerima keajaiban-keajaiban itu, dan memberikan toleransi dalam pengutipannya karena berpijak pada prisnsip toleransi dalam mengutip keutamaan-keutamaan amal padahal dalam keistimewaan-keistimewaan ini ada pendapat-pendapat yang jika didengar oleh orang yang menolak atau mengingkarinya niscaya ia akan menjatuhkan vonis lebih berat dari vonis kufur kepada pihak yang mengatakannya. Apa yang kami sebutkan di atas belum ada apa-apanya jika dibandingkan pendapat orang yang mengatakan bahwa junjungan kita Muhammad di hari kiamat didudukkan Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana dikutip oleh Al-Imam As-Syaikh Ibnul Qayyim dari para imam besar generasi salaf dalam kitabnya yang populer Badaa’iul Fawaaid tanpa bukti dan dalil sahih dan marfu’, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Saya tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh orang yang menantang keajaiban-keajaiban yang telah dikutip para imam besar Ahlussunnah di atas. Para imam ini tidak menentang malah menerima keajaiban-keajaiban itu, dan memberikan toleransi dalam pengutipannya karena berpijak pada prisnsip toleransi dalam mengutip keutamaan-keutamaan amal padahal dalam keistimewaan-keistimewaan ini ada pendapat-pendapat yang jika didengar oleh orang yang menolak atau mengingkarinya niscaya ia akan menjatuhkan vonis lebih berat dari vonis kufur kepada pihak yang mengatakannya. Apa yang kami sebutkan di atas belum ada apa-apanya jika dibandingkan pendapat orang yang mengatakan bahwa junjungan kita Muhammad di hari kiamat didudukkan Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana dikutip oleh Al-Imam As-Syaikh Ibnul Qayyim dari para imam besar generasi salaf dalam kitabnya yang populer Badaa’iul Fawaaid tanpa bukti dan dalil sahih dan marfu’, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Keistimewaan-keistimewaan yang
saya kutip tidak ada apa-apanya dengan yang tercantum dalam Kisyaaful Qinaa’ yang menyatakan bahwa
Nabi SAW adalah cahaya, yang tidak memiliki bayangan dan kotoran yang
dikeluarkan beliau ditelan bumi hingga tidak tersisa sedikitpun di atas
permukaan tanah. Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip juga tidak ada
apa-apanya dengan keistimewaan-keistimewaan yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah.
seperti ucapannya bahwa nama Nabi SAW tertulis dalam betis atau batang ‘Arsy,
dan pada daun, pohon, pintu, buah dan kubah surga. Di manakah mereka yang
memberikan ulasan dan kajian? Mengapa persoalan-persoalan ini tidak mendapat
kritik dan koreksi. Tindakan sebagian kalangan yang membuang dan memberi
tambahan pada kitab-kitab klasik agar teks sesuai dengan aspirasi mereka adalah
tindakan kriminal dan pengkhianatan besar yang berhak mendapat vonis
pemenggalan. Karena yang wajib dilakukan adalah menetapkan nash apa adanya
betapapaun ia berlawanan dengan perspektif orang yang mengkaji dan memberikan
ulasan. Selanjutnya ia bebas menulis apa saja yang sesuai dengan perspektif dan
pemikirannya.