Senin, 11 Juni 2012

Mafahiim Bab 2 - 1


PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN


Oleh  :
Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani

BAB II
KAJIAN KENABIAN
URAIAN MENGENAI KEISTIMEWAAN NABI, SUBSTANSI KENABIAN, KEMANUSIAAN DAN SUBSTANSI KEHIDUPAN BARZAKH


KEISTIMEWAAN YANG MELEKAT PADA NABI MUHAMMAD
DAN SIKAP ULAMA TERHADAPNYA

Para ulama memberikan perhatian besar terhadap keistimewaan-spesikasi kenabian dengan menyusun karangan, memberikan komentar (syarh), menyatukan dan menyendirikannya dalam sebuah kajian. Karya paling populer dan lengkap adalah Al-Khashaaish Al-Kubraa yang disusun oleh Al-Imam Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
Keistimewaan-keistimewaan ini sangat banyak jumlahnya. Ada yang sanadnya shahih ada yang tidak. Ada yang dipersengkatakan ulama. Sebagian memandang shahih sebagian tidak. Persoalan ini adalah persoalan khilafiah.

Perbincangan antar ulama mengenai keistimewaan-keistimewaan kenabian ini semenjak dahulu berputar di sekitar benar, salah, sah dan batal, bukan antara kufur dan iman. Para ulama berselisih dalam banyak hadits. Mereka saling membantah dalam menilai kesahihan, kelemahan atau dalam penolakannya karena perbedaan perspektif dalam menilai sanad dan kredibilitas perawinya. Siapapun yang menilai shahih terhadap hadits dla’if, menilai dla’if terhadap hadits shahih, menetapkan hadits yang ditolak atau menetapkan hadits yang ditetapkan dengan argumentasi, ta’wil atau syubhat dalil maka ia telah menempuh metode para ulama dalam melakukan kajian dan analisa.

Dan hal ini adalah haknya layaknya manusia yang berakal dan memiliki pemahaman. Kesempatan terbuka, medan terbentang luas dan ilmu tersebar bagi semua manusia.
Imam orang-orang berakal, junjungan para ulama, Nabi paling agung dan rasul paling mulia Muhammad SAW telah memberi motivasi untuk melakukan kajian dan analisa. Karena beliau menetapkan dua pahala bagi mujtahid yang mencapai kebenaran dan satu pahala bagi yang gagal mencapainya.




KITAB-KITAB SALAF DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN

Seandainya kita mau kembali kepada kitab-kitab salaf niscaya kita akan menemukan banyak ulama dan para pakar fiqh menyebutkan sejumlah keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW dalam kitab-kitab tersebut. Dari keistimewaan-keistimewaan ini mereka mengutip hal-hal ajaib dan aneh. Seandainya dalam menerima keistimewaan-keistimewaan ini orang yang melakukan kajian terpaku pada kesahihan sanad niscaya ia hanya akan menemukan sangat sedikit yang bersih dari keistimewaan-keistimewaan itu dibandingkan dengan jumlah yang mereka kutip. Penyebutan sejumlah keistimewaan-keistimewaan dalam kitab-kitab salaf ini tetap berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan para ulama dalam persoalan ini.

IBNU TAIMIYYAH DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN KENABIAN

Ibnu Taimiyyah terkenal dengan sikapnya yang ketat. Dalam kitab-kitabnya, ia mengutip sebagian pendapat mengenai keistimewaan-keistimewaan kenabian yang sanadnya tidak sahih. Ia menggunakannya sebagai argumentasi dalam banyak masalah dan menilainya bisa dijadikan pedoman dalam memberikan penjelasan atau menguatkan hadits yang ia tafsirkan. Sebagian dari pendapat yang ia kutip misalnya adalah ucapannya dalam Al-Fataawaa al-Kubraa, “Telah diriwayatkan bahwa Allah SWT telah menulis nama Nabi Muhammad SAW pada ‘Arsy dan pintu, kubah serta dedaunan surga.” Dalam hal ini telah diriwayatkan pula sejumlah atsar yang senada dengan hadits-hadits yang ada yang menjelaskan sanjungan terhadap nama Nabi dan peninggian sebutan beliau SAW saat ia mengatakan, “Telah disebutkan teks hadits yang terdapat dalam Al-Musnad dari Maisarah Al-Fajr saat Nabi ditanya, “Kapan engkau menjadi Nabi ?” “Saat Adam masih dalam kondisi antara ruh dan jasad,” jawab beliau.

Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Abul Husain ibn Busyran dari jalur As-Syaikh Abi Al-Faraj Ibnul Jauzi dalam Al-Wafaa bi Fadlaaili al-Mushthafa SAW sbb : Bercerita kepadaku Abu Ja’far Muhammad ibn ‘Umar, bercerita kepadaku Ahmad ibn Ishaq ibn Shalih, bercerita kepadaku Muhammad ibn Sinan Al ‘Aufi, bercerita kepadaku, bercerita kepadaku Ibrahim ibn Thuhman dari Yazid ibn Maisarah dari Abdillah ibn Sufyan dari Maisarah, ia berkata, Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah engkau menjadi Nabi ?”
لما خلق الله الأرض واستوى إلى السماء فسواهن سبع سموات وخلق العرش كتب على ساق العرش محمد رسول الله خاتم الأنبياء ، وخلق الجنة التي أسكنها آدم وحواء فكتب اسمي على الأبواب والأوراق والقباب والخيام وآدم بين الروح والجسد ، فلما أحياه الله تعالى نظر إلى العرش فرأى اسمي فأخبره   الله أنه سيد ولدك ، فلما غرهما الشيطان تابا واستشفعا باسمي إليه
“Ketika Allah menciptakan bumi dan menuju ke langit kemudian langit dijadikan-Nya tujuh lapis dan menciptakan ‘Arsy maka Allah menulis pada batang ‘Arsy Muhammadun Rasulullahi Khatamul Anbiyaa’. Dan ketika Allah menciptakan sorga yang didiami Adam dan Hawa maka Allah menulis namaku pada pintu, dedaunan, kubah dan kemah sedang Adam dalam kondisi antara ruh dan jasad. Saat Allah menghidupkan Adam, ia memandang ‘Arsy lalu melihat namaku. Kemudian Allah memberitahukan kepada Adam bahwa Muhammad adalah Junjungan anak cucumu. Waktu syetan berhasil memperdayai Adam dan Hawa, keduanya bertaubat dan memohon syafaat kepada Allah dengan namaku,” jawab Nabi. Al-Fataawaa vol. II hlm. 151.

IBNU TAIMIYYAH DAN KAROMAH :

Keistimewaan dan karomah itu identik dilihat dari aspek hukum, pengutipan, dan tidak diperlukannya upaya ketat sebagaimana upaya ketat dalam mengutip hukum-hukum dari halal dan haram. Keistimewaan dan karomah berada dalam wilayah sikap-sikap terpuji dan keutamaan-keutamaan.

Berangkat dari fakta ini, sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyangkut karomah para wali sama persis dengan sikapnya mengenai keistimewaan-keistimewaan para Nabi.
Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal. Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dla’if, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama.

Di antara kutipan-kutipan dari Ibnu Taimiyyah tentang karomah sebagian sahabat adalah sebagai berikut :
  1. Ummu Aiman pergi berhijrah tanpa membawa bekal dan air hingga ia hampir mati karena kehausan. Saat tiba waktu berbuka –ia sedang berpuasa– ia mendengar di atas kepalanya ada suara halus. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Ternyata ada timba menggantung. Kemudian ia minum dari timba tersebut sampai merasa segar dan tidak merasakan haus dalam sisa hidupnya.
  2. Sebuah perahu mantan budak Rasulullah SAW memberitahu kepada seekor singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah. Akhirnya singa tersebut berjalan bersamanya sampai mengantarkan menuju tempat tujuannya.
  3. Al-Bara’ ibn Malik jika bersumpah atas Allah maka Allah akan merealisasikan sumpahnya. Jika dalam situasi perang memberatkan kaum muslimin dalam berjihad, mereka akan berteriak, “Wahai Bara’! bersumpahlah atas Tuhanmu.” “Ya Rabbi, aku bersumpah atas-Mu , berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami,” sumpah Bara’. Akhirnya musuh pun mengalami kekalahan. Ketika berlangsung perang Qadisiyyah, Bara’ bersumpah, “Aku bersumpah atas-Mu, ya Rabbi, berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami dan jadikan aku orang pertama yang mati syahid.” Akhirnya kaum muslimin diberi bahu-bahu orang-orang kafir dan Bara’ sendiri terbunuh sebagai syahid.
  4. Khalid ibn Al-Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh. “Kami tidak akan menyerah sampai kamu minum racun,”kata orang-orang kafir. Akhirnya Khalid minum racun dan racun itu tidak menimbulkan efek apa-apa.
  5. Ketika mengirimkan bala tentara, ‘Umar ibn Al-Khatthab mengangkat seorang lelaki bernama Sariyah sebagai pemimpin pasukan. Ketika sedang berkhutbah di atas mimbar tiba-tiba ‘Umar berteriak, “Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung. Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung.” Saat utusan bala tentara datang, ‘Umar bertanya kepadanya, yang kemudian dijawab, “Wahai Amirul Mu’minin!, Kami bertemu musuh dan mereka berhasil mengalahkan kami. Tiba-tiba ada suara orang berteriak : “Wahai Sariyah!, tetaplah berada di gunung.” Akhirnya kami pun tetap berada di gunung, hingga Allah mengalahkan mereka.
  6. ‘Ala’ ibn Al-Hadlrami adalah gubernur Rasulullah untuk wilayah Bahrain. Dalam do’a yang dipanjatkannya ia berkata, “Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Sabar, wahai Dzat Yang Maha Tinggi, wahai Dzat Yang Maha Agung.” Maka do’anya pun dikabulkan. Ia juga pernah berdo’a agar orang-orang diberi hujan dan bisa berwudlu ketika mereka mengalami ketiadaan air dan hujan untuk sesudah mereka lalu do’anya pun dikabulkan. Waktu bala tentara muslimin terhalang oleh laut dan tidak mampu menyeberangkan kuda-kuda mereka, ia berdo’a hingga akhirnya mereka bisa melewati laut dengan pelana kuda yang tidak basah oleh air. Ia juga berdo’a agar ketika mati jasadnya tidak bisa dilihat orang. Akhirnya ketika mati orang-orang tidak menemukan jasadnya di liang lahat.
  7. Karomah seperti di muka juga terjadi pada Abu Muslim Al-Khaulani saat ia diceburkan ke dalam api. Ceritanya ketika ia bersama teman-teman pasukannya berjalan di atas sungai Tigris. Dari bentangannya sungai itu melemparkan lalu Abu Muslim menoleh kepada teman-temannya. “Periksalah barang-barang kalian hingga aku berdo’a kepada Allah!” perintahnya. “Saya kehilangan keranjang rumput,” kata sebagian temannya. “Ikuti saya,” kata Abu Muslim. Teman yang kehilangan keranjang rumput pun mengikutinya dan menemukan keranjang itu menyangkut pada sesuatu lalu memungutnya. Al-Aswad Al-‘Ansi ketika mengklaim sebagai Nabi, mencari Abu Muslim.
    “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” tanya Al-Aswad kepada Abu Muslim.
    “Saya tidak bisa mendengar,” jawab Abu Muslim
“Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ?”
“Betul.”
Akhirnya Al-Aswad menyuruh Abu Muslim dimasukkan ke dalam api. Ia akhirnya dimasukkan kedalam api namun mereka melihat Abu Muslim sedang shalat di tengah kobaran api itu. Api telah menjadi dingin dan menyelamatkan baginya.
Setelah Nabi wafat Abu Muslim datang ke Madinah. “Umar menyuruhnya duduk antara dirinya dan Abu Bakar As-Shiddiq. “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sampai aku melihat dari ummat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana Ibrahim kekasih Allah.” Kata ‘Umar.
Karomah yang lain yaitu, ketika seorang budak wanita memasukkan racun pada makanannya dan racun itu tidak membahayakannya.
Begitu juga ketika seorang perempuan menipu istrinya. Akhirnya perempuan itu ia kutuk dan akhirnya menjadi buta. Perempuan itu lalu datang dan bertaubat. Abu Muslim pun akhirnya mendo’akannya hingga Allah mengembalikan kembali penglihatannya.
  1. Sa’id ibn Al-Musayyib dalam peperangan pada era Yazid ibn Mu’awiyah mendengar adzan dari kuburan Rasulullah pada waktu-waktu shalat padahal masjid telah sepi tidak ada orang lain selain dirinya.
  2. ‘Umar ibn ‘Uqbah ibn Farqad suatu hari shalat di siang hari yang sangat panas lalu mendung pun memayunginya. Binatang buas melindunginya saat ia mengawasi kereta-kereta teman-temannya, karena ia disyaratkan untuk membantu mereka waktu perang.
  3. Mutharrif ibn ‘Abdillah ibn Syikhkhir jika masuk rumah maka wadah-wadah miliknya ikut bertasbih bersamanya. Ia dan temannya pernah berjalan berdua dalam kegelapan kemudian ujung cambuknya menerangi keduanya.
Dikutip dari Al-Fataawaa al-Kubraa karya Syaikh Ibnu Taimiyyah vol. XI hlm. 281.

SYAIKH IBNUL QAYYIM DAN DUDUKNYA NABI SAW DI ATAS ‘ARSY

Al-Imam Al-‘Allamah Syaikhul Islam Ibnul Qayyim telah mengutip keistimewaan yang aneh dan langka dan ia nisbatkan kepada banyak para imam salaf, yaitu ucapannya sebagai berikut :

(Faedah) : Al-Qadli berkata : “Al-Marwazi telah menyusun sebuah kitab tentang keutamaan Nabi SAW. Di dalamnya ia menyebutkan didudukkannya Nabi di atas ‘Arsy. Kata Al-Qadli, “Didudukkannya Nabi di atas ‘Arsy ini adalah pendapat Abu Dawud, Ahmad ibn Ashram, Yahya ibn Abi Thalib, Abi Bakr ibn Hammad, Abi Ja’far Ad-Dimasyqi, ‘Iyasy ad-Dawri, Ishaq ibn Rahawiah, ‘Abdul Wahhab Al-Warraq, Ibrahim Al-Ashbihani, Ibrahim Al-Harbi, Harun ibn Ma’ruf, Muhammad ibn Isma’il Al-Salami, Muhammad ibn Mush’ab Al-‘Abid, Abi Bakr ibn Shadaqah, Muhammad ibn Bisyr ibn Syuraik, Abi Qilabah, Ali ibn Sahl, Abi Abdillah ibn Abdinnur, Abi ‘Ubaid, Al-Hasan ibn Fadhl, Harun ibn Al ‘Abbas Al Hasyimi, Ismail ibn Ibrahim Al-Hasyimi, Muhammad ibn ‘Imran Al-Farisi Az-Zahid, Muhammad ibn Yunus Al-Bashri, Abdullah ibn Al-Imam Ahmad Al-Marwazi dan Bisyr Al-Hafi.

Syaikh Ibnul Qayyim berkata, “Saya katakan bahwa duduknya Nabi SAW di atas ‘Arsy adalah pendapat Ibnu Jarir At-Thabari, Imam dari semua ulama di atas yakni Mujahid Imamu at-Tafsir, dan juga pendapat Abu Al-Hasan Ad-Daruquthni. Salah satu syair dari Ad-Daruquthni mengenai duduknya Nabi di atas ‘Arsy adalah sebagai berikut :
حديث الشفاعـة عن أحمد      إلى أحمد المصطفـى مسنـده
وجـاء حديث بإقعــاده      على العرش أيضاً فلا نجحـده
أمرّوا الحديث على وجهـه      ولا تدخلـوا فيـه ما يفسده
ولا تنكـروا أنـه قاعـد       ولا تنكـروا أنـه يُقعــده
Hadits tentang syafaat dari Ahmad
Sanadnya sampai Ahmad Al-Mushthafa
Ada juga hadits tentang didudukkannya beliau
Di atas ‘Arsy , maka kita tidak boleh mengingkarinya
Pahamilah hadits sesuai teksnya 
Janganlah memasukkan sesuatu yang merusak maknanya
Jangan kalian ingkari bahwa Nabi itu duduk
Dan jangan kalian ingkari bahwa Allah telah mendudukkannya
(Dikutip dari Badaa’iul Fawaaid karya Syaikh Ibnul Qayyim vol. IV hlm. 40)

MEMBUKA TABIR DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN YANG UNIK

 Al-Faqih Al-‘Allamah As-Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya Kisyaafu Al-Qinaa’ menyebut sejumlah keistimewaan-keistomewaan Nabi SAW yang dinilai aneh oleh banyak orang yang kapasitas intelektualnya tidak mampu untuk memahami prinsip-prinsip dasar ini dan memahami kaidah-kaidah di atas.
Diantaranya adalah :
  • Apa yang untuk kita dikategorikan najis itu suci untuk Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang lain. Diperboleh berobat menggunakan urine dan darah beliau SAW, berdasarkan hadits riwayat Ad-Daruquthni : Sesungguhnya Ummu Aiman meminum urine Nabi.” “Perut kamu tidak akan masuk neraka,” kata Nabi Saw, namun status hadits ini dla’if, dan juga berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dalam Al Dlu’afaa’ : “Seorang budak membekam Nabi SAW. Setelah selesai membekam ia minum darah Nabi.” “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan dengan darah?” tanya Nabi. “Darah itu telah aku masukkan dalam perutku,” jawab budak. “Pergilah ! engkau telah menjaga dirimu dari api neraka,” suruh Nabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa rahasia masuk surganya budak yang meminum darah bekam Nabi adalah karena tindakan kedua malaikat yang membasuh perutnya.
  • Nabi tidak memiliki bayangan di bawah terpaan sinar matahari dan bulan. Karena Nabi itu makhluk cahaya sedangkan bayangan adalah jenis dari kegelapan. Keterangan ini disebut oleh Ibnu ‘Aqil dan yang lain. Fakta ini diperkuat oleh tindakan Nabi SAW yang memohon kepada Allah agar seluruh anggota badan dan seluruh arah mata angin dijadikan cahaya. Beliau juga mengakhir do’anya dengan “jadikanlah saya cahaya”.
  • Bumi itu menelan kotoran-kotoran Nabi SAW, berdasarkan hadits-hadits.
  • Kedudukan terpuji (al-maqam al-mahmud) adalah duduknya Nabi SAW di atas ‘Arsy. Dari ‘Abdullah ibn Salam : di atas kursi. Kedua riwayat ini disebutkan oleh Al-Baghawi.
  • Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah menguap.
  • Dan sesungguhnya diperlihatkan kepada Nabi SAW semua makhluk mulai Nabi Adam sampai manusia sesudahnya sebagaimana Adam diajari nama-nama segala sesuatu, berdasarkan hadits riwayat Al Dailami : “Dunia dicontohkan kepadaku dengan tanah liat dan air. Maka saya mengetahui segala sesuatu seluruhnya.” Ditampilkan kepada Nabi SAW semua ummatnya sehingga beliau bisa melihat mereka, berdasarkan hadits riwayat At-Thabarani : “Semalam di dalam kamar ditampilkan kepadaku ummatku, baik generasi awal maupun akhir. Mereka digambarkan kepadaku dengan air dan tanah liat sehingga saya mengenal salah satu dari mereka dengan temannya.” Kepada Nabi juga ditampilkan peristiwa yang bakal terjadi pada ummatnya hingga tiba hari kiamat berdasarkan hadits riwayat Ahmad dan perawi lain, yaitu : Diperlihatkan kepadaku apa yang dialami ummatku sepeninggal diriku. Mereka saling menumpahkan darah.
  • Ziarah kubur Nabi SAW itu disunnahkan bagi para lelaki dan wanita, berdasarkan keumuman hadits riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,Rasulullah SAW bersabda :  
  • من حج وزار قبري بعد      وفاتي فكأنما زارني في حياتي
"Barangsiapa yang melaksanakan haji dan berziarah pada kuburanku setelah saya wafat, maka seakan-akan ia berziarah padaku saat aku masih hidup."

(Kisyaafu Al-Qinaa’ vol. V hlm. 30, Dicetak atas instruksi raja Faisal ibn Abdul Aziz dari dinasti Sa’udi).

Keistimewaan-keistimewaan di atas yang telah disebut dan dikutip oleh para perawi ada sebagian yang shahih, ada yang dla’if dan ada yang sama sekali tidak memiliki dalil.
Saya tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh orang yang menantang keajaiban-keajaiban yang telah dikutip para imam besar Ahlussunnah di atas. Para imam ini tidak menentang malah menerima keajaiban-keajaiban itu, dan memberikan toleransi dalam pengutipannya karena berpijak pada prisnsip toleransi dalam mengutip keutamaan-keutamaan amal padahal dalam keistimewaan-keistimewaan ini ada pendapat-pendapat yang jika didengar oleh orang yang menolak atau mengingkarinya niscaya ia akan menjatuhkan vonis lebih berat dari vonis kufur kepada pihak yang mengatakannya. Apa yang kami sebutkan di atas belum ada apa-apanya jika dibandingkan pendapat orang yang mengatakan bahwa junjungan kita Muhammad di hari kiamat didudukkan Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana dikutip oleh Al-Imam As-Syaikh Ibnul Qayyim dari para imam besar generasi salaf dalam kitabnya yang populer Badaa’iul Fawaaid tanpa bukti dan dalil sahih dan marfu’, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip tidak ada apa-apanya dengan yang tercantum dalam Kisyaaful Qinaa’ yang menyatakan bahwa Nabi SAW adalah cahaya, yang tidak memiliki bayangan dan kotoran yang dikeluarkan beliau ditelan bumi hingga tidak tersisa sedikitpun di atas permukaan tanah. Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip juga tidak ada apa-apanya dengan keistimewaan-keistimewaan yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah. seperti ucapannya bahwa nama Nabi SAW tertulis dalam betis atau batang ‘Arsy, dan pada daun, pohon, pintu, buah dan kubah surga. Di manakah mereka yang memberikan ulasan dan kajian? Mengapa persoalan-persoalan ini tidak mendapat kritik dan koreksi. Tindakan sebagian kalangan yang membuang dan memberi tambahan pada kitab-kitab klasik agar teks sesuai dengan aspirasi mereka adalah tindakan kriminal dan pengkhianatan besar yang berhak mendapat vonis pemenggalan. Karena yang wajib dilakukan adalah menetapkan nash apa adanya betapapaun ia berlawanan dengan perspektif orang yang mengkaji dan memberikan ulasan. Selanjutnya ia bebas menulis apa saja yang sesuai dengan perspektif dan pemikirannya.


Selasa, 05 Juni 2012

10 of 10 Mafahim Bab 1

Links :
dapatkan kitab listrik MAFAHIM YAJIB AN TUSHOHHAH. klik link di bawah ini
http://www.mediafire.com/view/?x02rtbm7xtst8dk


9 of 10 Mafahim Bab 1


PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN


Oleh  :
Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani

BAB I (9)
AQIDAH
KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG



TUDUHAN SESAT

Adapun klaim bahwa orang mati tidak mampu melakukan apapun maka ini adalah klaim yang salah. Karena jika pandangan ini dikarenakan golongan wahabi meyakini bahwa orang mati telah menjadi tanah, berarti pandangan ini adalah substansi kebodohan terhadap hadits Nabi SAW bahkan firman Allah yang menetapkan adanya kehidupan arwah dan kekekalannya setelah berpisah dari jasad, dan panggilan Nabi terhadap arwah pada perang Badr. “Wahai ‘Amr ibn Hisyam! wahai ‘Utbah ibn Rabi’ah, wahai fulan ibn fulan! Sungguh kami menemukan janji Tuhan kami benar adanya. Apakah kalian menemukan janji Tuhan kalian benar adanya?” tanya Nabi. Seseorang bertanya, “Mengapa engkau memanggil-manggil orang-orang mati?”. “Kalian tidak lebih mendengar terhadap ucapanku daripada mereka,” jawab Nabi. Salah satu fakta adanya kehidupan arwah adalah : Tindakan beliau SAW memberi salam dan panggilan beliau kepada penghuni kuburan. “Assalamu’alaikum, wahai penghuni kubur,” sapa beliau. Siksa dan kenikmatan kubur, datang dan perginya arwah dan lain sebagainya dari banyak dalil yang datang dibawa Islam dan ditetapkan oleh filsafat klasik dan modern. 

Di sini kami hanya akan menanyakan persoalan berikut, Apakah golongan tersebut meyakini bahwa orang-orang yang mati syahid hidup di sisi Tuhan mereka sebagaimana dinyatakan Al Qur’an, atau tidak? Jika jawaban mereka tidak, maka tidak ada lagi diskusi antara kami dan mereka sebab mereka telah mendustakan Al Qur’an, di mana kitab suci ini mengatakan :
وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya". (Q.S. Al-Baqarah : 154)
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki."
(Q.S. Ali Imran : 169)

Jika mereka meyakini kehidupan orang-orang yang mati syahid maka kami katakan kepada mereka bahwa para Nabi dan orang-orang muslim yang shalih yang tidak berstatus syuhada’ seperti sahabat-sahabat senior itu tidak diragukan lagi lebih utama dari para syuhada’. Jika fakta menunjukkan syuhada’ itu hidup maka adanya kehidupan bagi orang-orang yang lebih utama daripada mereka lebih layak, di samping bahwa kehidupan para Nabi di alam kubur telah ditegaskan dalam hadits-hadits shahih. Jika kami katakan bahwa ketika kehidupan arwah telah dibuktikan berdasarkan dalil-dalil qath’i maka tidak ada ruang bagi kita setelah terbuktinya kehidupan arwah tersebut kecuali menetapkan spesikasi-spesikasinya. Karena adanya hal yang dilazimkan (malzum) menetapkan adanya yang melazimkan (lazim) sebagaimana meniadakan hal yang melazimkan menetapkan tidak adanya hal yang dilazimkan, sebagaimana telah diketahui. 

Secara logika, faktor apa yang menghalangi memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah lewat arwah para Nabi sebagaimana seseorang meminta bantuan dengan malaikat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya atau sebagaimana seseorang memohon pertolongan kepada yang lain. (Engkau disebut manusia sebab ruh bukan jasad fisik). Aktivitas arwah sama dengan aktivitas malaikat, tidak membutuhkan sentuhan dan alat. Tidak seperti ketentuan-ketentuan dalam aktivitas kita yang telah diketahui. Karena aktivitas arwah terjadi pada alam lain.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."
(Q.S. Al-Israa` : 85)

Apa yang mereka fahami tentang aktivitas malaikat atau jin di alam ini? Tidak ragu lagi bahwa arwah, dengan keterlepasan dan kebebasannya membuatnya mampu menjawab orang yang memanggilnya dan menolong orang yang meminta bantuan kepadanya persis seperti orang hidup. Kemampuan arwah justru melebihi orang hidup. Jika golongan yang sering mempersoalkan masalah ini tidak mengetahui kecuali hal-hal yang terindera dan tidak mengakui kecuali hal-hal yang kasat mata maka ini adalah karakter para naturalis (materialist) bukan kaum mukminin. Bagaimanapun kami mengalah mengikuti dan setuju pandangan mereka bahwa arwah setelah terlepas dari raga tidak mampu melakukan apapun, namun kami katakan kepada mereka jika diandaikan demikian dan kami setuju dalam rangka diskusi maka kami tegaskan bahwa bantuan yang diberikan para Nabi dan wali kepada orang-orang yang memohon bantuan bukan dikategorikan aktivitas arwah di alam ini.

Tetapi bantuan mereka terhadap orang-orang yang berziarah atau memohon bantuan lewat mereka dengan mendoakan sebagaimana orang shalih mendoakan orang lain. Maka yang terjadi adalah do’a dari orang yang unggul untuk orang yang diungguli atau minimal doa seorang saudara kepada saudaranya. Dan sungguh engkau mengetahui bahwa para Nabi dan wali itu hidup, memiliki kesadaran, kepekaan dan pengetahuan. Malah kesadaran mereka lebih sempurna dan pengetahuan mereka lebih luas setelah terlepas dari raga karena lenyapnya penghalang tanah dan perselisihan-perselisihan ambisi manusiawi. 

Dalam sebuah hadits terdapat keterangan bahwa amal perbuatan kita disampaikan kepada beliau SAW. Jika beliau menemukan kebaikan beliau akan memuji Allah dan sebaliknya jika menemukan keburukan beliau akan memohonkan ampunan buat kita. Boleh kita katakan bahwa yang dimintakan dan dimohon bantuannya adalah Allah namun si pemohon memohon kepada Allah dengan menggunakan perantara Nabi agar keinginannya dikabulkan Allah. Berarti pelaku yang memberikan bantuan adalah Allah, namun pemohon ingin memohon kepada Allah lewat sebagian orang-orang yang dekat dan mulia di sisi-Nya. Seolah-olah pemohon mengatakan, “Saya salah satu pecinta atau pengikut orang yang dekat dan mulia di sisi-Mu maka rahmatilah aku berkat dirinya.”

Dan Allah bakal memberi rahmat kepada banyak orang berkat Nabi SAW dan figur lain dari para Nabi, wali dan ulama.Walhasil, kemuliaan yang diberikan Allah kepada para pecinta Nabi karena Nabi, juga kemuliaan yang diberikan-Nya kepada sebagian hamba karena sebagian hamba yang lain adalah hal yang telah diketahui. Sebagian dari hal di atas adalah mereka yang mensalati mayit dan memohon kepada Allah agar Dia memuliakan mayit dan mengampuninya karena mereka dengan mengatakan : “Dan kami telah datang kepada-Mu sebagai pemberi syafaat maka terimalah syafaat kami.” 

APAKAH MEMOHON SESUATU YANG TIDAK MAMPU DILAKUKAN KECUALI  OLEH  ALLAH  ADALAH  TINDAKAN  SYIRIK

Salah satu klaim sesat yang menjadi pegangan golongan yang memvonis kafir terhadap orang yang bertawassul dengan Nabi SAW atau memohon kepada beliau adalah ucapan mereka bahwa manusia memohon kepada para Nabi dan orang-orang shalih yang telah mati, sesuatu yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah. Permohonan ini dikategorikan kufur. 

Jawaban dari klaim ini adalah bahwa pandangan tersebut adalah sebuah kesalahpahaman terhadap ketetapan ulama di zaman dulu dan kini. Karena manusia hanya memohon kepada para Nabi dan orang-orang shalih untuk menjadi faktor penyebab di sisi Allah dalam memenuhi apa yang mereka mohon dari Allah. Dengan cara Allah menciptakan kebutuhannya sebab syafaat, doa dan tawajjuh para Nabi dan orang-orang shalih sebagaimana yang terjadi pada seorang buta dan yang lain dari mereka yang kepada Nabi dalam rangka memohon dan bertawassul dengan beliau kepada Allah.

Nabi mengabulkan permohonan mereka, menenteramkan hati mereka dan mewujudkan keinginan mereka atas izin Allah dan beliau tidak pernah berkata kepada salah seorang dari mereka : “kamu telah musyrik.”Demikian juga semua hal yang berada di luar kebiasaan yang dimintakan kepada beliau seperti menyembuhkan penyakit kronis tanpa obat, menurunkan hujan dari langit saat dibutuhkan padahal tidak ada mendung, merubah substansi benda, mengucurnya air dari jari-jari, memperbanyak makanan dan sebagainya. Semua permintaan ini umumnya berada di luar kemampuan manusia dan Nabi tetap mengabulkan permintaan ini serta tidak mengatakan kepada mereka : “Kalian telah menyekutukan Allah maka perbaharuilah Islam kalian karena kalian meminta sesuatu dariku yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah.” 

Apakah mereka merasa lebih tahu tentang tauhid dan faktor-faktor yang menyebabkan keluar dari tauhid daripada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau? Ini adalah sesuatu yang tidak dibayangkan oleh orang bodoh, apalagi orang pintar. Al Qur’an yang agung menceritakan sabda Nabi Sulaiman AS kepada jin dan manusia yang menjadi anggota majlis beliau :
يَا أَيُّهَا المَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
"Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (Q.S. An-Naml : 38)  

Beliau AS meminta kepada mereka untuk mendatangkan singgasana besar dari Yaman menuju tempatnya di Syam melalui cara di luar kebiasaan agar hal ini menjadi petunjuk bagi Bilqis dan pendorong untuk beriman. Ketika ‘Ifrit dari golongan jin mengatakan :
أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ
"Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu". (Q.S. An-Naml : 39) -Maksudnya dalam waktu singkat-. Nabi Sulaiman berkata, “Saya ingin yang lebih cepat dari itu.” Lalu seorang lelaki yang memiliki pengetahuan dari kitab yang notabene salah seorang paling jujur dan anggota majlis beliau berkata :
أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip" (Q.S. An-Naml : 40) -Maksudnya sebelum pelupuk matamu kembali terbuka-.
“Itu yang saya harapkan,” kata Nabi Sulaiman. Kemudian lelaki itu berdo’a dan tiba-tiba singgasana itu sudah ada di depan beliau. Mendatangkan singgasana dengan cara demikian adalah salah satu hal yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah dan tidak berada dalam batas kemampuan manusia dan jin umumnya.

Nabi Sulaiman mengajukan permintaan ini kepada anggota majlisnya dan lelaki yang sangat jujur itu berkata kepada beliau bahwa saya akan melakukannya. Apakah Nabi Sulaiman kafir sebab mengajukan permintaan tersebut dan apakah lelaki itu telah menyekutukan Allah dengan jawabannya? Hal ini jelas sangat mustahil. Karena dalam kedua perkataan tersebut tindakan disandarkan berdasarkan cara majaz ‘aqli. Dan hal ini boleh malah populer. Mengungkap kekaburan dalam masalah ini jika memang di situ terdapat kekaburan adalah bahwa manusia hanya memohon kepada para Nabi dan orang-orang shalih agar memberi syafaat kepada Allah dalam hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia dan Allah memberi mereka kemampuan untuk melakukannya.

Orang yang mengatakan : Wahai Nabi Allah ! sembuhkan penyakitku atau bayarlah hutangku, maksud sesungguhnya adalah berilah aku syafaat dalam kesembuhan, berdo’alah untukku agar hutangku terbayar dan bertawajjuhlah kepada Allah menyangkut kondisiku. Manusia tidak memohon kepada beliau kecuali sesuatu yang Allah telah memberi beliau kemampuan untuk melakukannya dari do’a dan memberi syafaat. Ini adalah keyakinanku menyangkut orang yang mengatakan hal di atas dan saya berserah diri kepada Allah atas keyakinan ini.

Penyandaran dalam perkataan manusia termasuk majaz ‘aqli yang tidak menimbulkan dampak negatif atas orang yang mengatakannya sebagaimana firman Allah :
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ
"Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui".(Q.S.Yaasiin : 36)
Dan sabda Nabi SAW : إن مما ينبت الربيع ما يقتل حبطاً أو يلم

Penggunaan majaz ‘aqli dalam firman Allah dan sabda rasul serta orang khusus dan orang awam itu banyak sekali dan tidak perlu dikhawatirkan. Karena keluarnya majaz ‘aqli dari orang-orang yang mengesakan Allah adalah indikasi atas maksud mereka dan sama sekali bukan termasuk perangai buruk. Persoalan ini telah kami jelaskan dengan detail pada pembahasan khusus dalam kitab ini.

JIKA ENGKAU MEMOHON MAKA MEMOHONLAH KEPADA ALLAH DAN JIKA MEMINTA PERTOLONGAN MINTALAH PADA ALLAH

Judul ini adalah penggalan dari sebuah hadits populer yang diriwayatkan At-Turmudzi dan dinilainya shahih dari Ibnu ‘Abbas dengan status marfu’.

Banyak orang salah faham dalam memahami hadits ini karena mereka menjadikannya sebagai dalil bahwa tidak boleh meminta dan memohon pertolongan secara mutlak, dari sisi apapun, dan dengan cara apapun kecuali kepada Allah. Mereka menganggap meminta dan memohon pertolongan kepada selain Allah sebagai kemusyrikan yang mengeluarkan dari agama Islam. Dengan anggapan demikian mereka menafikan penggunaan sebab dan mencari bantuan dengannya serta meruntuhkan banyak nash yang ada dalam masalah ini. 

Yang benar hadits ini tidak dimaksudkan untuk melarang meminta atau memohon pertolongan kepada selain Allah sebagaimana dilihat dari teksnya. Namun maksudnya adalah melarang lupa bahwa kebaikan yang dihasilkan oleh sebab sesungguhnya berasal dari Allah, dan perintah untuk menyadari bahwa kenikmatan yang ada pada makhluk berasal dan disebabkan Allah. Berarti makna hadits ini adalah jika anda ingin memohon pertolongan kepada salah seorang makhluk dan hal ini harus dilakukan maka jadikan seluruh sandaranmu kepada Allah semata. Jangan sampai perhatian kepada sebab membuatmu lupa untuk melihat pembuat sebab. Janganlah engkau termasuk orang yang mengetahui apa yang terlihat secara lahir dari kaitan dan relasi antara berbagai hal yang saling berkaitan satu sama lainnya namun melupakan Dzat yang mengaitkannya. 

Hadits di atas sendiri mengindisikan pengertian ini. Yakni dalam sabda Nabi setelah ungkapan di atas, yaitu :
واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ، وإن اجتمعت على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalau ummat bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu maka mereka tidak akan memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah digariskan Allah untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk memberimu bahaya dengan sesuatu maka mereka tidak akan memberimu bahaya kecuali dengan sesuatu yang telah digariskan Allah kepadamu.” 

Sebagaimana anda lihat, hadits ini menetapkan ummat bisa memberi manfaat dan bahaya dengan sesuatu yang telah digariskan Allah untuk atau atas seorang hamba. Kelanjutan dari hadits di atas menjelaskan maksud yang dikehendaki Nabi SAW. Mengapa kita mengingkari permintaan bantuan kepada selain Allah padahal terdapat perintah untuk melakukannya dalam banyak tempat dari Al-Kitab dan As-Sunnah? Allah berfirman :
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat". (Q.S. Al-Baqarah : 45)
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan". (Q.S. Al-Anfaal : 60)
Firman Allah berikut menceritakan seorang hamba yang shalih, Dzul Qarnain :
(………فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ…………..)
Dzulqarnain berkata : "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat ), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka".(Q.S. Al-Kahfi : 95)

Dan dalam penyelenggaraan shalat khauf yang ditetapkan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ditetapkan saling tolong menolong sebagian makhluk dengan yang lain. Demikian pula Allah SWT menginstruksikan kaum mu’minin untuk mengambil sikap waspada terhadap musuh mereka. Begitu pula dalam Rasulullah mendorong kaum mu’minin untuk saling membantu memenuhi kebutuhan yang lain, memudahkan orang yang tertimpa kesulitan dan memberi solusi atas orang yang dilanda problema serta dalam ancaman beliau terhadap ketidakpedulian atas hal-hal ini, semuanya banyak terdapat dalam As-Sunnah.
Rasulullah bersabda :
من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته
Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
 “Allah senantiasa membantu seorang hamba sepanjang ia selalu membantu saudaranya.” (HR Muslim, Abu Dawud dan perawi lain).
إن لله خلقاً خلقهم لحوائج الناس يفزع الناس إليهم في حوائجهم ، أولئك الآمنون من عذاب الله
Allah memiliki makhluk yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia datang kepada mereka mengadukan kebutuhannya. Mereka itu adalah orang-orang yang aman dari adzab Allah.”

Renungkanlah sabda Nabi (Manusia datang kepada mereka mengadukan kebutuhannya). Beliau tidak menjadikan manusia tersebut sebagai orang-orang musyrik dan juga tidak sebagai orang-orang yang melakukan maksiat.
إن لله عند أقوام نعما أقرها عندهم ما كانوا في حوائج المسلمين ما  لم يملوهم ، فإذا ملوهم نقلها إلى غيرهم
Sesungguhnya bagi Allah pada beberapa kaum ada nikmat yang Dia tetapkan pada mereka sepanjang mereka memenuhi kebutuhan kaum muslimin dan sepanjang mereka tidak menyusahkan kaum muslimin. Jika mereka menyusahkan kaum muslimin, Allah akan memindahkan nikmat itu kepada kaum lain.” (Hadits marfu’).
إن لله أقواماً اختصهم بالنعم لمنافع العباد ، يقرهم فيها ما بذلوها فإذا منعوها نزعها منهم فحولها إلى غيرهم
Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa kaum yang Dia khususkan dengan beberapa nikmat untuk kemanfaatan para hamba. Allah menetapkan mereka dalam nikmat-nikmat itu sepanjang mereka mendermakannya. Jika mereka menolak mendermakannya maka Allah akan mencabut nikmat-nikmat itu dan mengalihkannya kepada kaum lain.”
(HR. Muslim dan Ibnu Abi Ad-Dunya).

Al-Hafidh Al-Mundziri mengatakan seandainya dikatakan sanad hadits ini hasan maka itu hal yang mungkin.
لأن يمشي أحدكم مع أخيه في قضاء حاجته وأشار باصبعه أفضل من أن يعتكف في مسجدي هذا شهرين
Sungguh jika salah satu dari kalian berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhan saudaranya –Nabi memberi isyarat dengan jari-jari beliau– itu lebih utama daripada ia beri’tikaf di masjidku ini selama dua bulan.” (HR Al-Hakim). “Isnadnya hasan,” kata Al-Hakim. 

JIKA ANDA MEMINTA, MEMINTALAH KEPADA ALLAH

Adapun sabda Nabi SAW (وإذا سألت فاسأل الله) maka ia tidak bisa dijadikan pijakan dan dalil untuk melarang meminta atau tawassul. Siapapun yang memahami dari hadits ini secara harfiah adanya larangan memohon kepada selain Allah secara mutlak atau larangan tawassul dengan orang lain secara total maka sungguh ia telah salah jalan dan menipu dirinya. Karena orang yang menjadikan para Nabi dan orang shalih sebagai wasilah ( mediator ) kepada Allah untuk mendapatkan manfaat atau menolak keburukan dari Allah maka tidak lain kecuali ia memohon kepada Allah semata agar memudahkan apa yang ia cari atau menjauhkan darinya keburukan yang dikehendaki Allah seraya bertawassul kepada-Nya dengan orang yang ia jadikan sebagai mediator.

Dalam hal ini, ia menggunakan sebab yang dijadikan Allah untuk keberhasilan para hamba dalam memenuhi kebutuhan mereka kepada Allah. Barangsiapa yang menggunakan sebab yang diperintahkan Allah untuk menempuhnya dalam rangka meraih keinginannya, maka ia tidak memohon kepada sebab tapi memohon kepada yang menetapkan sebab.

Maka perkataan seseorang : Wahai Rasulullah, saya ingin engkau mengembalikan pandangan mataku, melenyapkan musibah yang menimpaku atau menyembuhkan sakitku maksudnya adalah memohon permintaan-permintaan ini kepada Allah lewat syafaat Rasulullah SAW. Perkataan ini sama dengan ucapan : Do’akan aku dapat begini atau syafaatilah aku dalam ini. Tidak ada perbedaan antara ungkapan di atas dan ungkapan semacam ini. Hanya saja, yang terakhir ini lebih transparan maksudnya daripada yang awal. Ucapan semisal dua ungkapan di atas yang lebih jelas adalah perkataan orang yang bertawassul : Ya Allah, saya memohon Engkau -lewat Nabi-Mu– memudahkan sesuatu –dari hal yang bermanfaat, atau menolak sesuatu– dari hal yang buruk. Orang yang bertawassul dalam semua contoh di atas tidak memohon keinginannya kecuali kepada Allah. 

Dari paparan di atas bisa anda ketahui bahwa berargumentasi atas larangan tawassul dengan sabda Nabi SAW (إذا سألت فاسأل الله) adalah kesalahan mengarahkan hadits pada pengertian yang jelas keliru. Yaitu bahwasanya siapapun tidak boleh memohon sesuatu kepada selain Allah. Karena orang yang memahami hadits di atas dengan pengertian demikian, sepenuhnya keliru. Cukup untuk menjelaskan kesalahan pengertian tersebut bahwa hadits itu sendiri terucap sebagai respon dari Nabi atas pertanyaan Ibnu ‘Abbas sang perawi hadits setelah beliau memancingnya untuk mengajukan pertanyaan. “Nak, maukah engkau aku ajari beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat dengannya?” pancing beliau. Anjuran bertanya manakah yang lebih indah dari dorongan beliau ini? “Ya, mau,” jawab Ibnu ‘Abbas. Lalu Rasulullah membalas dengan hadits yang ada ungkapan di atas ini.
Seandainya kita mengikuti pemahaman keliru di atas niscaya orang bodoh tidak boleh bertanya kepada orang pintar, orang yang jatuh dalam tempat yang membinasakan tidak boleh memohon pertolongan kepada seseorang yang bisa menyelamatkannya, yang memberi piutang tidak boleh meminta hutang kepada pihak yang berhutang, seseorang tidak boleh meminta hutang, di hari kiamat manusia tidak boleh meminta syafaat kepada para Nabi, dan Nabi Isa tidak boleh menyuruh manusia untuk meminta syafaat kepada junjungan para rasul Muhammad SAW. Karena dalil yang digunakan untuk menopang anggapan ini bersifat umum yang mencakup keabsahan apa yang telah kami sebutkan dan belum kami sebutkan. 

Apabila sebagian golongan mengatakan bahwa yang dilarang adalah meminta kepada para Nabi dan orang shalih yang sudah berada dalam kuburan di alam barzakh karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa maka bantahan terhadap alasan ini telah dijelaskan secara panjang lebar di muka, di mana kesimpulannya adalah bahwa mereka hidup dan mampu memberikan syafaat dan do’a. Kehidupan mereka adalah kehidupan barzakh yang layak dengan status mereka yang dengan kehidupan itu mereka mampu memberi manfaat dengan berdo’a dan memohonkan ampunan. Orang yang mengingkari kehidupan para Nabi dan orang-orang shalih di alam kubur paling tidak ia buta terhadap hadits yang statusnya hampir mutawatir yang menunjukkan bahwa orang-orang mu’min yang mati dalam kehidupan barzakhnya mampu mengetahui, mendengar, mampu mendoakan dan aktivitas-aktivitas lain yang dikehendaki Allah. Maka apa anggapanmu menyangkut pembesar-pembesar barzakh dari para Nabi dan orang-orang shalih?

Dalam hadits tentang isra’ yang tidak hanya berstatus shahih namun masyhur di sana diceritakan tentang sikap para Nabi terhadap Nabi terbaik Muhammad di mana mereka shalat menjadi ma’mum beliau, menjadi pendengar khutbah beliau dan do’a mereka terhadap beliau di langit hingga ummat Muhammad tidak mendapat dispensasi pengurangan shalat dari 50 kali menjadi 5 kali dalam sehari semalam berkat syafaat beliau yang berulang-ulang, kecuali setelah mendapat isyarat dengan syafaat dari Nabi yang mendapat firman Allah, Musa ibn ‘Imran kepada beliau SAW. 

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pengertian yang dimaksud hadits di muka tidak seperti anggapan mereka yang nyata-nyata salah, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Karena maksud dari hadits itu adalah peringatan terhadap tindakan meminta-minta harta orang lain tanpa ada kebutuhan tapi semata-mata hanya menginginkannya, anjuran bersikap menerima (qana’ah) terhadap apa yang dimudahkan Allah meskipun sedikit, tidak meminta apa yang tidak dibutuhkannya dari barang-barang milik orang lain, dan merasa cukup dengan memohon kepada Allah dengan mengharap karunia-Nya, karena Allah mencintai mereka yang terus-menerus memohon dalam berdoa. Berbeda dengan manusia yang justru membencinya.
الله يغضب إن تركت سؤاله          ::    وبني آدم حين يسأل يغضب
Allah murka jika kamu tidak memohon kepadanya
Sedang anak Adam marah saat diminta sesuatu

Maknanya : Jika engkau silau melihat harta orang lain dan ingin memilikinya maka janganlah engkau meminta harta miliknya tapi mintalah pertolongan Allah dengan cara memohon kepada-Nya dari karunia-Nya bukan meminta kepada hamba-Nya.

Jadi hadits tersebut membimbing untuk bersifat qana’ah dan membersihkan diri dari sifat tamak. Di manakah posisi makna hadits ini dari tindakan memohon kepada Allah melalui para Nabi dan wali-Nya atau permintaan syafaat para Nabi untuk mereka yang memintanya dalam hal di mana Allah menjadikan syafaat mereka terdapat padanya, yang notabene faktor terkuat tercapainya keberhasilan. Namun jika manusia sudah mengendarai hawa nafsu maka hawa nafsu akan membawanya jauh menjelajahi ruang prasangka dan tergelincir dari rel pemahaman yang benar.

SESUNGGUHNYA SAYA TIDAK DAPAT DIJADIKAN TEMPAT UNTUK MEMOHON

Dalam sebuah hadits terdapat kisah bahwa pada era Nabi Muhammad Saw ada orang munafik yang menyakiti orang mu’min. “Marilah bersama-sama kita memohon pertolongan kepada Nabi SAW dari si munafik itu,” ajak Abu Bakar.
إنه لا يستغاث بي وإنما يستغاث بالله
Sesungguhnya saya tidak bisa dijadikan tempat untuk memohon. Hanya Allah lah yang menjadi tempat memohon.” Jawab Nabi. (HR. At-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).
Hadits ini terkadang dijadikan argumentasi oleh orang yang menolak memohon pertolongan dengan Nabi SAW. Argumentasi ini dari awal sudah keliru. Sebab jika hadits ini dipahami secara tekstual niscaya maksudnya adalah melarang memohon pertolongan dengan beliau secara total sebagaimana yang terlihat dari kalimatnya. Pemahaman teskstual ini dimentahkan oleh sikap sahabat bersama beliau. Di mana mereka memohon pertolongan dan hujan lewat beliau serta meminta do’a kepada beliau dan beliau pun mengabulkannya dengan suka cita. Karena itu hadits ini harus diberi interpretasi yang relevan dengan keumuman hadits-hadits agar kesatuan nash-nash bisa terangkai. 

Kami katakan bahwa yang dimaksud dengan (إنه لا يستغاث بي) adalah menetapkan substansi tauhid dalam dasar keyakinan. Yaitu bahwa pemberi pertolongan sejatinya adalah Allah. Adapun hamba, ia hanyalah mediator dalam memohon pertolongan atau maksud Nabi SAW adalah mengajari para sahabat bahwa tidak boleh meminta kepada hamba sesuatu yang berada di luar kapasitasnya seperti meraih surga, selamat dari neraka, hidayah dalam arti terhindar dari kesesatan, dan jaminan mengakhiri ajal dalam kebahagiaan. Hadits ini tidak menunjukkan atas pengkhususan memohon pertolongan dan memberikannya dengan orang hidup bukan orang mati. Ia tidak memiliki kaitan dengan pembedaan ini. Justru, secara tekstual hadits ini melarang memohon pertolongan dengan selain Allah selamanya tanpa ada diskriminasi antara yang hidup dan yang mati. Namun pengertian ini bukan yang dimaksud oleh hadits ini seperti telah kami jelaskan di muka. 

Ibnu Taimiyyah dalam Al-Fataawaa mengisyaratkan pengertian ini dimana ia mengatakan, “Terkadang dalam firman Allah dan sabda rasul terdapat ungkapan yang memiliki arti sahih namun sebagian orang memahaminya diluar yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Pemahaman ini tidak bisa diterima. Sebagaimana At-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir meriwayatkan bahwa sesungguhnya pada era Nabi Muhammad Saw ada orang munafik yang menyakiti orang mu’min. “Marilah bersama-sama kita memohon pertolongan kepada Nabi SAW dari si munafik itu,” ajak Abu Bakar. “Sesungguhnya saya tidak bisa dijadikan tempat untuk memohon. Hanya Allah lah yang menjadi tempat memohon.” Pengertian hadits ini yang dikehendaki Nabi adalah pengertian kedua. Yakni meminta kepada beliau sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah. Jika tidak dikehendaki pengertian kedua, buktinya para sahabat memohon do’a kepada beliau dan meminta hujan lewat beliau sebagaimana keterangan dalam Shahih Al Bukhari dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata, “Kadang aku mengingat seorang penyair seraya kupandang wajah Nabi SAW yang sedang memohon hujan. Maka beliau tidak turun sampai talang mengalir airnya.”
وأبيض يستسقى الغمام بوجهه   ::   ثمال اليتامى عصمة للأرامل
Figur berwajah putih dimana mendung dimintakan hujan berkat dirinya 
Sang pemelihara anak-anak yatim dan pelindung para janda

KATA-KATA YANG DIGUNAKAN YANG TERDAPAT DALAM MASALAH INI

Terdapat kata-kata yang digunakan untuk memuji Nabi SAW yang menyebabkan kesamaran bagi sebagian golongan Wahabi kemudian mereka memvonis kufur yang mengucapkannya. Di antaranya seperti :

(ولا جاء إلا هو ..) Tidak ada harapan kecuali Nabi SAW
(وأنا مستجير به ..) Saya meminta perlindungan kepada beliau
(وإليه يفزع في المصائب) Hanya kepada beliau tempat berlindung dalam segala musibah
(وإن توقفت فمن أسأل) Jika saya bimbang maka kepada siapa saya meminta?

Maksud mereka yang menggunakan ungkapan ini adalah tidak ada tempat berlindung yang dari makhluk, tidak ada harapan yang dari manusia, hanya kepada beliau tempat berlindung dalam segala musibah, yakni yang dari kalangan makhluk karena kemuliaan beliau di sisi Allah dan agar beliau bertawajjuh dan memohon kepada-Nya, dan jika saya bimbang kepada siapa saya meminta? Yakni yang dari para hamba Allah. 

Meskipun dalam do’a dan tawassul kami tidak menggunakan ungkapan-ungkapan seperti di atas dan kami juga tidak mengajak serta mendorong untuk menggunakannya karena menghindari kesalahfahaman dan menjauhi ungkapan-ungkapan yang diperselisihkan serta karena berpegang teguh dengan ungkapan yang jelas yang tidak diperselisihkan, hanya saja kami menilai menjatuhkan vonis kufur kepada orang yang menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut adalah tindakan tergesa-gesa yang tidak terpuji dan tindakan yang tidak bijaksana. Mengapa? Karena kita harus melihat fakta bahwa yang mengungkapkannya adalah dari kalangan yang mengesakan Allah, bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Dia dan Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membenarkan semua rukun agama, percaya kepada Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Nabi, dan Islam sebagai agama. Yang dengan semua hal ini mereka memiliki perlindungan sebagai pemeluk agama dan memperoleh kehormatan Islam. Dari Anas RA, ia berkata :
من صلى صلاتنا وأسلم واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله ورسوله فلا تخفروا الله في ذمته
Barangsiapa yang melakukan shalat seperti shalat kami, masuk Islam dan menghadap kiblat kami serta memakan hewan sembelihan kami maka ia adalah seorang muslim yang memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya, maka janganlah kalian tidak menepati Allah dalam orang yang dilindungi-Nya.” (HR Al-Bukhari).

Berangkat dari uraian di atas maka kewajiban kita ketika menjumpai dalam perkataan kaum mu’minin penyandaran sesuatu kepada selain Allah SWT maka kita wajib mengarahkannya ke dalam majaz ‘aqli dan tidak ada jalan untuk mengkafirkan mereka. Karena majaz ‘aqli digunakan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Terlontarnya penyandaran tersebut dari orang yang mengesakan Allah cukup untuk menjadikannya sebagai majaz ‘aqli. Sebab keyakinan yang benar adalah keyakinan bahwa Allah adalah pencipta para hamba dan seluruh perbuatan mereka. Tidak ada seorang pun yang bisa memberi pengaruh kecuali Allah, baik ia mati atau hidup. Keyakinan ini adalah tauhid. Berbeda dengan orang yang meyakini keyakinan lain, ia akan terjerumus dalam kemusyrikan. Tidak ada dalam kaum muslimin secara mutlak, orang yang meyakini seseorang bersama-sama dengan Allah bisa berbuat, meninggalkan, memberi rizqi, menghidupkan atau mematikan.

Adapun ungkapan-ungkapan yang menimbulkan kesalahpahaman maka maksud mereka yang mengungkapkannya adalah memohon syafaat kepada Allah dengan mediator / perantara tersebut. Maka maksud sesungguhnya adalah Allah. Tidak ada seorang muslim pun yang meyakini menyangkut orang yang ia mohon atau ia minta bahwa orang orang tersebut mampu untuk mengerjakan dan meninggalkan sesuatu tanpa melibatkan Allah, dari dekat atau jauh atau melibatkan Allah dalam taraf yang lebih dekat kepada kemusyrikan terhadap Allah. Aku berlindung kepada Allah dari melemparkan tuduhan syirik atau kufur kepada seorang muslim karena alasan keliru, bodoh, lupa atau berijtihad. 

Kami katakan bahwa jika kebanyakan dari mereka di atas melakukan kesalahan dalam mengungkapkan permohonan ampunan, surga, kesembuhan, kesuksesan dan permintaan mereka akan hal ini langsung kepada Nabi SAW, maka sesungguhnya mereka tidak melakukan kesalahan dalam aspek tauhid. Sebab maksud dari ungkapan mereka adalah memohon syafaat kepada Allah lewat perantara itu. Seolah-olah mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah!, mintalah kepada Allah agar Dia mengampuni dan merahmatiku. Saya bertawassul dengan beliau kepada Allah dalam memenuhi kebutuhanku, melenyapkan kesusahanku dan mewujudkan harapanku.”Para sahabat Rasulullah sendiri memohon pertolongan dengan beliau, memohon bantuan, meminta syafaat dan mengadukan kondisi mereka dari kefakiran, penyakit, musibah, hutang dan kegagalan kepada beliau sebagaimana telah kami sebutkan.Sudah maklum bahwa Nabi tidak memberikan bantuan dan sebagainya kepada para sahabat secara independen berkat dirinya atau kapasitasnya. Tapi beliau memberikannya atas izin, perintah, dan kekuasaan Allah.

Nabi hanyalah seorang hamba yang memiliki kedudukan dan statusnya sendiri di sisi Allah. Beliau juga memiliki kemuliaan yang dengannya beliau memasukkan kepada Allah banyak manusia yang percaya kepada beliau, membenarkan risalahnya dan meyakini keutamaan dan kemuliaannya. Saya meyakini bahwa orang yang memiliki keyakinan berlawanan dengan pemaparan di atas telah dikategorikan musyrik. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat. Karena itu, Anda akan melihat bahwa dalam sebagian kesempatan Nabi mengingatkan keyakinan di atas jika tampak lewat wahyu atau dari keadaan bahwa orang yang bertanya atau mendengar itu kurang keyakinannya. Dalam sebuah kesempatan beliau menginformasikan bahwa dirinya adalah junjungan anak Adam (sayyidu waladi Adam). Dalam kesempatan lain beliau menjelaskan kepada sahabat bahwa yang menjadi junjungan adalah Allah.

Dalam satu kesempatan para sahabat memohon bantuan kepada beliau kemudian beliau mengajarkan mereka untuk bertawassul dengan dirinya. Namun dalam waktu yang lain mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya yang bisa dimintai bantuan adalah Allah sedang saya tidak bisa dimintai bantuan.” Di satu saat beliau para sahabat meminta dan memohon pertolongan dengan beliau dan beliau pun mengabulkan keinginan mereka. Malah beliau juga memberikan alternatif kepada mereka untuk bersabar menghadapi musibah dengan jaminan masuk sorga atau mengatasi musibah itu segera, sebagaimana Nabi pernah memberikan pilihan kepada seorang buta, perempuan yang mengidap epilepsi, dan kepada Qatadah yang kehilangan penglihatan. Dalam suatu waktu beliau berkata kepada para sahabat, “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon pertolongan maka memohonlah kepada Allah .” Dalam satu kesempatan beliau mengatakan, “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang mu’min.” Namun dalam kesempatan beliau berkata, “Tidak ada yang mendatangkan segala kebaikan kecuali Allah.”

Dari uraian di atas, jelas bagi kamu bahwa akidah kita, alhamdulillah, adalah akidah paling jernih dan paling suci. Seorang hamba tidak bisa melakukan aktivitas apapun dengan mengandalkan dirinya sendiri betapapun kedudukan dan derajatnya, meskipun ia adalah makhluk paling utama SAW. Beliau bisa memberi, menolak, memberi bahaya, memberi manfaat, mengabulkan dan memberikan pertolongan hanya berkat Allah SWT. Jika beliau dimintai bantuan, pertolongan atau diminta sesuatu maka beliau akan menghadap Allah lalu memohon, berdo’a, memberi syafaat kemudian akhirnya dikabulkan dan diterima syafaat beliau. Beliau tidak pernah mengatakan kepada para sahabat yang memohon pertolongan dan sebagainya, “Janganlah kalian meminta sesuatu kepada saya. Janganlah kalian memohon kepadaku. Janganlah mengadukan keadaan kalian kepadaku. Tapi bertawajjuhlah kepada Allah dan mintalah kepada-Nya. Karena pintu Allah terbuka dan Dia dekat serta mengabulkan. Dia tidak membutuhkan siapapun dan tidak ada penghalang dan penjaga pintu antara Dia dan makhluk-Nya. 




SIKAP SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB MENYANGKUT UNGKAPAN-UNGKAPAN YANG DIKATEGORIKAN SYIRIK ATAU SESAT OLEH SEBAGIAN GOLONGAN

Dalam konteks ini Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab memiliki sikap yang agung dan pandangan yang bijak. Khususnya menyangkut sebagian ungkapan-ungkapan yang sudah populer diucapkan lisan yang dikategorikan oleh mereka yang mengkalim memproteksi dan membela tauhid, sebagai tindakan syirik dan yang mengatakannya dikategorikan musyrik. Pimpinan tauhid dan kepala orang-orang yang mengesakan Allah mengatakan dalam ungkapannya yang tepat dengan kebijakannya yang pintar, yang dengan sikapnya ini dakwahnya menyebar di tengah manusia dan metodenya populer di mata kalangan awam dan elite.

Dengarkanlah ucapannya tentang akidahnya yang termuat dalam suratnya kepada Abdullah ibn Suhaim dan dicetak oleh Ahlul Majma’ah :
“Jika keterangan ini telah jelas, maka masalah-masalah yang dikecam oleh Ibnu Suhaim sebagian ada yang merupakan kebohongan yang nyata yaitu :
o   ucapan Ibnu Suhaim bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat
o   Bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar.
o   Saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid.
o   Perbedaan para ulama adalah bencana dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya : Wahai Makhluk paling mulia.
o   Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah SAW maka saya akan melakukannya dan jika mampu mengambil talang Ka’bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu.
o   Saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi SAW, mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain, dan saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah.
Atas 12 masalah ini jawaban saya adalah : Maha Suci Engkau, ini (apa yang dituduhkan Ibnu Suhaim) adalah kebohongan yang besar, Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi SAW. Beliau dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih (تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ)

Demikian kutipan dari risalah kedua belas dari risalah-risalah Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang termuat dalam kumpulan karya-karya Syaikh bagian kelima halaman 61 yang telah diedarkan oleh Universitas Muhammad ibn Sa’ud Al-Islam2yah dalam pekan Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab. 

RINGKASAN

Walhasil, orang yang memohon bantuan kepada selain Allah tidak bisa divonis kafir kecuali jika ia meyakini penciptaan oleh selain Allah. Membedakan antara orang mati dan orang hidup tidak ada artinya sama sekali. Karena jika seseorang meyakini penciptaan oleh selain Allah maka ia kafir, namun masih terdapat perbedaan dengan kalangan Mu’tazilah dalam masalah penciptaan tindakan. Jika seseorang meyakini adanya unsur sebagai penyebab dan unsur kerja maka tidak kafir. Anda mengetahui bahwa keyakinan maksimal manusia mengenai orang-orang mati adalah bahwa mereka penyebab dan yang bekerja atau berbuat sebagaimana orang hidup. Bukan mereka itu yang menciptakan layaknya Tuhan. Karena tidaklah logis jika manusia menilai orang-orang mati melebihi orang-orang hidup, padahal manusia tidak meyakini orang-orang hidup kecuali sebagai yang berbuat dan sebagai penyebab.

Jika memang terdapat kesalahan maka kesalahan itu letaknya pada keyakinan sebagai yang berbuat dan sebagai penyebab. Karena hal inilah keyakinan maksimal seorang mu’min mengenai makhluk. Jika seorang mu’min tidak berkeyakinan demikian maka tidak dapat disebut mu’min. Kesalahan dalam meyakini hal ini tidak dapat diklasifikasikan kekufuran atau kemusyrikan.

Berkali-kali saya ulangi di depan telinga kalian bahwa tidaklah logis apabila diyakini dalam orang mati melebihi keyakinan terhadap orang hidup. Lalu seseorang menetapkan tindakan kepada orang hidup dari aspek menjadi penyebab dan menetapkan tindakan kepada orang mati dari aspek kemampuan mempengaruhi secara esensial dan kemampuan menciptakan secara substansial. Karena tidak disangsikan lagi bahwa keyakinan ini adalah keyakinan yang tidak rasional. Paling jauh masalah orang yang meminta bantuan kepada orang mati – setelah beberapa kali mengalah – itu seperti orang yang meminta pertolongan kepada orang lumpuh yang tidak diketahui bahwa ia lumpuh. Siapa yang mengatakan bahwa meminta bantuan kepada orang lumpuh itu syirik? Padahal membuat sebab adalah sesuatu yang berada dalam kapasitas orang mati dan orang mati juga memiliki kemampuan untuk berbuat seperti halnya orang hidup dengan mendoakan kita. Karena arwah itu mendoakan kerabat-kerabat mereka. 

Terdapat hadits dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda :
إن أعمالكم تعرض على أقاربكم من الأموات فإن كان خيراً استبشروا به وإن كان غير ذلك قالوا : اللهم لا تمتهم حتى تهديهم إلى ما هديتنا
 “Sesungguhnya amal perbuatan kalian disampaikan kerabat-kerabat kalian yang mati. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dan jika sebaliknya mereka berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau matikan mereka hingga Engkau memberi petunjuk kepada apa yang Engkau memberi petunjuk kepada kami.” (HR. Ahmad).
Hadits ini juga memilki jalaur-jalur riwayat lain yang sebagian menguatkan yang lain. (lihat Al-Fath Ar-Rabbani Tartibul Musnad jilid 7 hlm 89 dan Syarh Al-Shudur karya Imam As-Suyuthi.

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dengan sanadnya sampai Abi Ayyub, ia berkata, “Amal perbuatan orang-orang hidup disampaikan kepada orang-orang yang telah mati. Jika mereka melihat amal baik mereka bersuka cita. Jika mereka melihat amal buruk mereka berdo’a, “Ya Allah, semoga Engkau menyadarkan mereka.”
(lihat kitab Ar-Ruh karya Ibnul Qayyim).