BAB I (4)
AQIDAH
KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN
KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG
MENGAGUNGKAN, ANTARA IBADAH DAN ETIKA Banyak orang keliru dalam memahami substansi pengagungan dan ibadah. Mereka mencampur kedua substansi ini dan menganggap bahwa apapun bentuk pengagungan berarti ibadah kepada yang diagungkan. Berdiri, mencium tangan, mengagungkan Nabi SAW dengan penyebutan sayyidinaa dan maulaanaa sebelum nama beliau, dan berdiri di depan beliau saat berziarah dengan sopan santun; semua ini tindakan berlebihan di mata mereka yang bisa mengarah kepada penyembahan selain Allah. .
Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan yang salah dan membingungkan yang tidak diridloi Allah dan Rasulullah SAW serta menyusahkan diri sendiri yang tidak sesuai dengan spirit syari’ah islamiyyah. Nabi Adam AS, manusia pertama dan hamba Allah yang shalih yang pertama dari jenis manusia, oleh Allah malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghargaan dan pengagungan atas ilmu pengetahuan yang diberikan Allah kepada Nabi Adam dan sebagai proklamasi kepada para malaikat atas dipilihnya Nabi Adam bukan para makhluk lain. Allah berfirman yang Artinya : “Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil."
Dalam ayat lain Allah berfirman
yang Artinya : Menjawab iblis "Saya
lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau
ciptakan dari tanah." (Q.S. Al-A`raaf : 12), "Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya
bersama-sama, Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud
itu." (Q.S. Al-Hijr : 30-31) Para
malaikat mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah dan iblis menolak untuk
sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah. Iblis adalah yang pertama kali
menggunakan analogi dengan akalnya dan berkata : saya lebih baik dari Adam,
dengan alasan karena ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Ia enggan
menghormati Adam dan menolak bersujud kepadanya.
Iblis adalah makhluk angkuh pertama dan menolak mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah. akhirnya ia dijauhkan dari rahmat Allah karena keangkuhannya pada Adam yang shalih. Sikap iblis pada dasarnya adalah keangkuhan kepada Allah karena sujud kepada Adam semata-mata atas perintah Allah. Sujud kepada Adam hanyalah sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas para malaikat. Iblis adalah makhluk yang mengesakan Allah namun ketauhidannya tidak berguna sama sekali akibat menolak bersujud kepada Adam.
Salah satu firman Allah yang
menjelaskan pengagungan terhadap orang-orang sholih adalah firman Allah
menyangkut Nabi Yusuf AS yang Artinya : "Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (
semuanya ) merebahkan diri seraya sujud." (Q.S. Yusuf : 100) Sujud ini
adalah sujud sebagai ungkapan penghargaan dan pemuliaan terhadap Yusuf atas
saudara-saudaranya.
Sujud menyentuh tanah yang dilakukan saudara-saudara Yusuf ditunjukkan oleh kalimat وخروا barangkali dalam syari’at saudara-saudara Yusuf sujud dalam bentuk seperti ini diperbolehkan atau seperti sujud para malaikat kepada Adam untuk memuliakan, mengagungkan, dan mematuhi perintah Allah sebagai penafsiran terhadap mimpi Yusuf dimana mimpi para Nabi berstatus wahyu.
Adapun Nabi Muhammad SAW maka Allah SWT telah berfirman :
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ
شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira
dan pemberi peringatan, Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di
waktu pagi dan petang." Dan firmanNya :
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِه وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi
Maha mengetahui. Dan firmanNya :
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا
أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu
melebihi suara Nabi..” Dan firmanNya :
لَا تَجْعَلُوا
دُعَاء الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاء بَعْضِكُم بَعْضاً
“Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras,
sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya
tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”
Dan firmanNya :
“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka
Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi
mereka ampunan dan pahala yang besar.”
“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu)
kebanyakan mereka tidak mengerti.”
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan
sebahagian kau kepada sebahagian (yang lain ).”
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur
pergi di antara kamu dengan berlindung ( kepada kawannya ), Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa
azab yang pedih.”
Ketika berhadapan dengan Rasulullah, Allah SWT melarang berbicara mendahului beliau dan bersikap tidak sopan dengan mendahului berbicara. Sahl ibn ‘Abdillah berkata, "Janganlah kamu berkata sebelum Rasulullah berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan perhatikanlah." Para sahabat dilarang untuk mendahului dan tergesa-gesa memenuhi keinginannya sebelum keinginan Rasulullah terpenuhi dan dilarang mengeluarkan fatwa apapun baik perang atau urusan lain yang menyangkut agama tanpa perintah Nabi dan juga tidak boleh mendahului beliau.
Ketika berhadapan dengan Rasulullah, Allah SWT melarang berbicara mendahului beliau dan bersikap tidak sopan dengan mendahului berbicara. Sahl ibn ‘Abdillah berkata, "Janganlah kamu berkata sebelum Rasulullah berkata, dan jika beliau berkata maka dengarkanlah dan perhatikanlah." Para sahabat dilarang untuk mendahului dan tergesa-gesa memenuhi keinginannya sebelum keinginan Rasulullah terpenuhi dan dilarang mengeluarkan fatwa apapun baik perang atau urusan lain yang menyangkut agama tanpa perintah Nabi dan juga tidak boleh mendahului beliau.
Kemudian Allah memperingatkan mereka untuk tidak melanggar larangan di atas :
وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Dan bertaqwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Hujuraat :1). Berkata As-Silmi : “Takutlah
kepada Allah, jangan sampai menelantarkan hak Allah dan menyia-nyiakan hal-hal
yang diharamkan-Nya karena Dia mendengar ucapan kalian dan mengetahui tindakan
kalian.
Selanjutnya Allah melarang mengeraskan suara melebihi suara beliau dan berbicara keras kepada beliau sebagaimana mereka berbicara kepada sesamanya. Versi lain mengatakan, sebagaimana kalian saling memanggil dengan menggunakan nama. Abu Muhammad Makki mengatakan : “Janganlah kalian berkata sebelum beliau, mengeraskan ucapan dan memanggi beliau dengan namanya sebagaimana panggilan kalian dengan sesamanya. Tapi agungkanlah dan hormatilah dan panggillah beliau dengan panggilan paling mulia yang beliau senang dengan panggilan tersebut yaitu Wahai Rasulullah dan wahai Nabiyyallah.”
Pandangan Abu Muhammad Makki ini sejalan
dengan firman Allah yang Artinya : "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan
sebahagian kamu kepada sebahagian ( yang lain ). Sesungguhnya Allah telah
mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan
berlindung (kepada kawannya),maka hendak-lah orang-orang yang menyalahi perintah
Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
(Q.S.An.Nuur : 63 )
Ulama lain menafsirkan : Jangan
berkata kepada beliau kecuali bertanya. Selanjutnya Allah memperingatkan bahwa
amal perbuatan mereka akan hangus jika melanggar larangan di muka. Ayat di atas
turun dilatarbelakangi oleh peristiwa ketika sekelompok orang datang kepada
Nabi dan memanggil beliau dengan : “Wahai Muhammad, keluarlah untuk menemui
kami.” Lalu Allah pun mengecam tindakan mereka sebagai kebodohan dan
menggambarkan bahwa kebanyakan mereka tidak berakal. ‘Amr ibn ‘Ash
berkata, “Tidak ada orang yang lebih kucintai melebihi Rasulullah SAW dan di mataku
tidak ada yang lebih agung melebihi beliau. Saya tidak mampu memandang beliau
dengan mata terbuka lebar semata-mata karena menghormatinya. Jika saya ditanya
untuk mensifati beliau saya tidak akan mampu menjawab sebab saya tidak mampu
memandang beliau dengan mata terbuka lebar. (HR Muslim dalam Kitabul Iman, bab Kaunul Islam Yahdimu Maa Qablahu).
Turmudzi meriwayatkan dari Anas
bahwa Rasulullah SAW keluar menemui sahabat Muhajirin dan Anshor yang sedang
duduk. Di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Tidak ada yang berani
memandang beliau dengan wajah terangkat kecuali Abu Bakar dan Umar. Keduanya
memandang beliau dan beliau memandang keduanya dan mereka berdua tersenyum
kepada beliau dan beliau juga tersenyum kepada mereka.
Usamah ibn Syuraik meriwayatkan :
Saya datang kepada Nabi SAW yang dikelilingi para sahabat yang seolah-olah di
atas kepala mereka dihinggapi burung. Dalam mensifati beliau : “Jika berbicara para pendengar yang duduk di
sekeliling beliau akan menundukkan kepala seolah-olah di atas kepala mereka
dihinggapi burung.”
Saat ‘Urwah ibn Mas’ud menjadi
duta Quraisy waktu mengadakan perjanjian datang kepada Rasulullah dan melihat
penghormatan para sahabat kepada beliau. Ia melihat jika beliau berwudlu maka
mereka akan segera berebutan mengambil air wudlu. Bila beliau meludah atau
membuang dahak maka mereka akan meraihnya dengan telapak tangan mereka lalu
digosokkan pada wajah dan badan mereka. Kalau ada sehelai rambut beliau yang
jatuh mereka segera mengambilnya. Jika Beliau memberi instruksi mereka segera
mengerjakanya. Bila Beliau berbicara mereka merendahkan suara mereka. Mereka
tidak berani memandang tajam Beliau, karena menghormatinya. Ketika Usamah bin
Syuraik kembali kepada kaum quraisy ia berkata, “Wahai orang-orang Quraisy saya
pernah mendatangi Kisra dan kaisar di istana mereka, Demi Allah saya belum
pernah sekalipun melihat raja bersama kaumnya sebagaimana Muhammad bersama para
sahabatnya.
Dalam riwayat lain disebutkan : Saya belum pernah sekalipun melihat raja yang dihormati pengikutnya sebagaimana para sahabat menghormati Nabi. Sungguh saya telah melihat kaum yang tidak akan membiarkan Beliau dalam bahaya selamanya. At-Thabarani dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik bahwasanya ia berkata; “Kami sedang duduk-duduk disamping Nabi seolah-seolah diatas kepala kami hinggap burung “. Tidak ada seorangpun diantara kami yang berbicara tiba-tiba datang beberapa orang pada Nabi lalu mereka bertanya ; “ Siapakah hamba Allah yang paling dicintainya? “Yang paling baik budi pekertinya “Jawab Nabi. Demikian tercantum dalam At-Targhib : 2/187. Imam Al-Mundziri berkata, Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam As-Shahih dengan para perawi yang bisa dijadikan argumentasi. Abu Ya’la meriwayatkan dari Al-Barra’ ibn ‘Azib dan menilainya shahih bahwa Al-Barra’ mengatakan, “Sungguh aku ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Rasulullah namun aku menundanya selama dua tahun semata-mata karena segan”.
Al-Baihaqi meriwayatkan dari
Al-Zuhri bahwa ia berkata, “Mengabarkan kepada saya seorang Anshor yang tidak
saya ragukan bahwa Rasulullah SAW jika berwudlu atau mengeluarkan dahak maka
para sahabat berebutan mengambil dahak beliau kemudian diusapkan pada wajah dan
kulit mereka. “Mengapa kalian
berbuat demikian,? Tanya Rasulullah. “Kami mencari berkah
darinya.” “Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya maka
berkatalah jujur, menyampaikan amanah dan tidak menyakiti tetangganya.”
Demikian keterangan dalam Al-Kanzu :
8/228.
Walhasil, dalam hal ini ada dua persoalan besar yang harus dimengerti. Pertama; kewajiban menghargai Nabi SAW dan meninggikan derajat beliau di atas semua makhluk. Kedua; mengesakan Tuhan dan menyakini bahwa Allah SWT berbeda dari semua makhluk-Nya dalam aspek dzat, sifat dan tindakan.
Barangsiapa yang meyakini adanya kesamaan makhluk dengan Allah dalam aspek ini maka ia telah menyekutukan Allah sebagaimana kaum musyrikin yang meyakini ketuhanan dan penyembahan terhadap berhala. Dan siapapun yang merendahkan Nabi SAW dari kedudukan semestinya maka ia berdosa atau kafir.
Adapun orang menghormati Nabi dengan beragam penghormatan yang berlebihan namun tidak mensifati beliau dengan sifat-sifat Allah apapun maka ia telah berada di jalan yang benar dan secara bersamaan telah menjaga aspek ketuhanan dan kerasulan. Sikap semacam ini adalah sikap yang ideal. Apabila ditemukan dalam ucapan kaum mukminin penyandaran sesuatu kepada selain Allah maka wajib dipahami sebagai majaz ‘aqli. Tidak ada alasan untuk mengkafirkannya karena majaz ‘aqli digunakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
PERANTARA SYIRIK
Banyak orang keliru dalam memahami esensi perantara (wasithah). Mereka memvonis dengan gegabah bahwa mengambil perantara adalah tindakan musyrik dan menganggap bahwa siapapun yang menggunakan perantara dengan cara apapun telah menyekutukan Allah dan sikapnya sama dengan sikap orang-orang musyrik yang mengatakan :
مَا نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami
kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." (Q.S. Az-Zumar : 3)
Kesimpulan ini jelas salah dan
berargumentasi dengan ayat di atas adalah bukan pada tempatnya. Karena ayat
tersebut jelas menunjukkan pengingkaran terhadap orang musyrik menyangkut
penyembahan mereka terhadap berhala dan menjadikannya sebagai tuhan selain
Allah serta menjadikan berhala sebagai sekutu dalam ketuhanan dengan anggapan
bahwa penyembahan mereka terhadap berhala mendekatkan mereka kepada Allah.
Jadi, kekufuran dan kemusyrikan kaum musyrikin adalah dari aspek penyembahan
mereka terhadap berhala dan dari aspek keyakinan mereka bahwa berhala adalah
tuhan-tuhan di luar Allah SWT. Di sini ada masalah yang urgen untuk dijelaskan.
Yaitu bahwa ayat di atas
menyatakan bahwa kaum musyrikin, sesuai yang digambarkan Allah, tidak meyakini
dengan serius ucapan mereka yang membenarkan penyembahan berhala : ( Kami tidak menyembah mereka kecuali
semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah ). Jika ucapan kaum
musyrikin tersebut sungguh-sungguh niscaya Allah lebih agung daripada berhala
dan mereka tidak akan menyembah selain-Nya.
Allah telah melarang kaum muslimin untuk memaki berhala-berhala kaum musyrikin, lewat firman-Nya yang Artinya : "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."
(Q.S. Al-An`aam : 108)
Abdurrazaq, Abd ibn Hamid, ibn
Jarir, ibnul Mundzir, ibn Abi Hatim dan Abu al-Syaikh meriwayatkan dari Qatadah
bahwa Rasulullah berkata, “Awalnya Kaum muslimin memaki berhala-berhala orang
kafir. Akhirnya mereka memaki Allah. Lalu turunlah ayat yang Artinya
: "Dan janganlah kamu
memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti
akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami
jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan
merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu
mereka kerjakan." (Q.S. Al-An`aam : 108)
Peristiwa inilah yang menjadi latar belakang turunnya ayat tersebut. Berarti ayat tersebut melarang dengan keras kaum mu’minin untuk melontarkan kalimat yang bernada merendahkan terhadap batu-batu yang disembah oleh kaum paganis di Makkah.
Karena melontarkan kalimat seperti itu mengakibatkan kemurkaan kaum paganis karena membela bebatuan yang mereka yakini dari lubuk hati paling dalam sebagai tuhan yang memberi manfaat dan menolak bahaya. Jika mereka emosi maka akan balik memaki Tuhan kaum muslimin, Allah SWT dan melecehkan-Nya dengan berbagai kekurangan padahal Dia bebas dari segala kekurangan. Jika mereka meyakini dengan sebenarnya bahwa penyembahan kepada berhala sekedar untuk mendekatkan diri kepada Allah niscaya mereka tidak akan berani memaki Allah untuk membalas orang yang memaki tuhan-tuhan mereka.
Fakta ini menunjukkan dengan
jelas bahwa keberadaaan Allah dalam hati mereka jauh lebih sedikit dari pada
keberadaaan bebatuan yang disembah. Ayat lain yang menunjukkan ketidakjujuran
orang kafir adalah : "Dan Sesungguhnya
jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi ?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah :
"Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
(Q.S. Luqman : 25)
Bila orang-orang kafir meyakini dengan jujur bahwa hanya Allah sang Pencipta dan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan apa-apa niscaya mereka akan menyembah Allah semata, tidak menyembah berhala atau minimal penghormatan mereka terhadap Allah melebihi penghormatan kepada patung-patung dari batu tersebut. Apakah jawaban mereka dalam ayat ini relevan dengan makian mereka terhadap Allah sebagai bentuk pembelaan terhadap berhala-berhala mereka dan pelampiasan dendam terhadap Allah SWT? Secara spontan kita akan menjawab sampai kapanpun hal ini tidak relevan. Ayat di atas bukanlah satu-satunya ayat yang menunjukkan bahwa di mata mereka Allah lebih rendah dari patung-patung yang mereka sembah.
Banyak ayat senada seperti : "Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, Maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu." (Q.S. Al-An`aam : 136)
Seandainya di mata mereka Allah tidak lebih rendah dibanding patung-patung tersebut maka mereka tidak akan mengunggulkannya dalam bentuk seperti yang diceritakan ayat ini dan tidak layak mendapat vonis (سَاء مَا يَحْكُمُونَ).Salah satu ungkapan yang masuk kategori di atas adalah perkataan Abu Sufyan sebelum masuk Islam, “Mulialah engkau wahai Hubal! ”sebagaimana riwayat Al-Bukhari.
Pujian ini dialamatkan kepada berhala mereka yang bernama Hubal agar dalam kondisi kritis mampu mengatasi Allah Tuhan langit dan bumi serta agar ia dan pasukannya mampu mengalahkan tentara mukmin yang hendak menghancurkan berhala-berhala mereka. Ini adalah gambaran dari sikap orang musyrik menyangkut berhala dan Allah SWT. Pengertian bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang dihormati harus dipahami dengan baik karena banyak orang tidak memahaminya dengan benar lalu membangun persepsi-persepsi yang sesuai dengan pemahamannya.
Apakah tidak engkau perhatikan ketika Allah menyuruh kaum muslimin menghadap Ka’bah saat shalat, mereka menyembah menghadapnya dan menjadikannya sebagai kiblat? Tetapi Ka’bah bukanlah obyek penyembahan. Mencium Hajar Aswad adalah penghambaan kepada Allah dan mengikuti Nabi SAW. Seandainya ada kaum muslimin yang berniat menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad niscaya mereka menjadi musyrik sebagaimana para penyembah berhala. Perantara (mediator / wasithah) adalah sesuatu yang harus ada.
Eksistensinya bukanlah sebagai bentuk kemusyrikan. Tidak semua orang yang menggunakan mediator antara dirinya dan Allah dipandang musyrik. Jika semua dianggap musyrik niscaya semua orang dikategorikan musyrik karena segala urusan mereka didasarkan atas eksistensi mediator. Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an via Jibril dan Jibril adalah mediator beliau.
Sedang Nabi SAW adalah mediator besar bagi para sahabat. Ketika mengalami problem yang berat mereka datang dan mengadukannya kepada beliau dan menjadikannya sebagai mediator menuju Allah. Mereka memohon do’a kepada beliau dan beliau tidak menjawab, “Kalian telah musyrik dan kafir karena tidak boleh mengadu dan memohon kepada saya. Kalian harus datang, berdoa dan memohon sendiri karena Allah lebih dekat dengan kalian dari pada saya”. Nabi tidak pernah berkata demikian. Beliau malah berdiam dan dan memohon pada saat di mana mereka mengatahui bahwa pemberi sejati adalah Allah dan yang mencegah, melimpahkan dan pemberi rizqi juga Allah. Mereka juga tahu bahwa beliau SAW memberi atas izin dan karunia Allah.
Beliaulah yang mengatakan, (إنما أنا قاسم والله معط) ”Saya adalah pembagi dan Allah pemberi”. Berangkat dari pengertian bahwa penghormatan bukan berarti penyembahan terhadap obyek yang dihormati ini maka jelas diperbolehkan menetapkan manusia biasa manapun bahwa ia telah mengatasi kesulitan dan mencukupi kebutuhan dengan pengertian bahwa ia adalah mediator dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.
Kalau manusia biasa bisa berperan seperti ini maka bagaimana dengan Nabi Muhammad SAW yang notabene junjungan mulia, Nabi agung, makhluk termulia dunia akhirat , junjungan jin dan manusia serta makhluk Allah paling utama secara mutlak? Bukankah beliau pernah bersabda :
من فرج عن مؤمن كربة من كرب الدنيا
“Barangsiapa
membantu mengatasi satu dari banyak kesulitan seorang mu’min di dunia, maka
Allah akan melepaskannya dari kesusahan pada hari kiamat." sebagaimana
tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Maka orang mu’min adalah orang yang
mengatasi segala kesulitan.” Bukankah beliau bersabda :
من قضى لأخيه حاجة
كنت واقفاً عند ميزانه فإن رجح وإلا شفعت له
"Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya maka saya akan berdiri di
dekat timbangan amalnya. Jika timbangan amal baik itu lebih berat maka aku biarkan,
jika tidak maka aku akan memberinya syafaat.” Maka orang mu’min adalah orang yang mencukupi
segala kebutuhan.” Bukankah beliau bersabda dalam hadits yang sahih ?:
من ستر مسلماً
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya."
Begitu juga dalam sabdanya :
أن لله عز وجل خلقاً
يفزع إليهم في الحوائج
"Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk yang didatangi banyak orang untuk
memenuhi kebutuhan mereka.” Begitu juga :
والله في عون العبد
ما دام العبد في عون أخيه
"Allah senantiasa membantu hamba-Nya sepanjang ia membantu saudaranya."
Dan begitu juga :
من أغاث ملهوفاً كتب
الله له ثلاثاً وتسعين حسنة
"Siapapun yang menolong orang teraniaya maka Allah akan menulis baginya
kebaikan." (HR. Abu Ya’la , Al-Bazzar dan Al-Baihaqi.)
Dalam konteks ini orang mu’min adalah perantara yang mengatasi, membantu, menolong, menutupi dan yang menjadi tempat pengaduan meskipun sesungguhnya pelaku sejatinya adalah Allah SWT. Namun berhubung ia adalah mediator dalam menangani masalah-masalah tersebut maka sah menisbatkan tindakan-tindakan tersebut kepadanya.
Dalam koleksi hadits-hadits
Rasulullah SAW terdapat banyak hadits yang menjelaskan bahwa Allah SWT
menghindarkan siksaan dari penduduk bumi berkat orang-orang yang beristighfar
dan mereka yang rajin menghidupkan masjid dan Dia juga memberi rizqi, menolong
dan menjauhkan musibah dan tenggelam dari penduduk bumi berkat mereka.
At-Thabarani dalam Al-Kabir dan
Al-Baihaqi dalam As-Sunan meriwayatkan dari Mani’ Ad-Dailami RA bahwa ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda :
لو لا عباد لله ركع وصبية رضع
وبهائم رتع لصب عليكم العذاب صبا ثم رضّ رضا
“Jikalau tiada para hamba Allah yang sholat, para bayi yang menyusui dan
binatang yang merumput niscaya adzab akan diturunkan dan orang-orang yang
terkena adzab itu akan dihancurkan”.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’d ibn Abi Waqqash RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda :
هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم
”Bukankah kalian mendapat kemenangan dan rizki hanya karena orang-orang
lemah kalian.” At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dikategorikan
shahih oleh Al-Hakim dari Anas RA bahwa Nabi SAW bersabda : (لعلك ترزق به) ”Barangkali kamu
mendapat rizqi berkat saudaramu”.
Dari Abdullah ibn Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إن لله عز وجل خلقاً خلقهم لحوائج الناس يفزع
إليهم الناس في حوائجهم أولئك الآمنون من عذاب الله تعالى
”Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk yang Dia ciptakan untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang datang kepada mereka untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya. Mereka adalah orang-orang yang aman dari adzab Allah.”(HR.
Thabarani dalam Al-Kabiir, Abu Nu’aim
dan Al-Qudlo’i dengan status Hasan).
Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa
Rasulullah bersabda :
إن الله ليصلح بصلاح الرجل المسلم ولده وولد
ولده وأهل دويرته ودويرات حوله ولا يزالون في حفظ الله عز وجل ما دام فيهم
”Sesungguhnya Allah SWT, sebab keshalihan seorang laki-laki muslim akan
membuat anak, cucu, warga desanya dan desa-desa sekitarnya menjadi shalih dan
mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah sepanjang laki-laki shalih itu
tinggal bersama mereka”.
Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dalam
tafsirnya : 2/341 dan An-Nasaa’i dalam Al-Mawaa’idz
dari As-Sunan Al-Kubraa sebagaimana
keterangan dalam At-Tuhfah : 13/380.
Para perawi hadits ini sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Shahih Al-Bukhari dan Al-Muslim selain
guru An-Nasaa’i yang dikategorikan tsiqah dan terdapat komentar di dalamnya.
Dari Ibnu ‘Umar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Dari Ibnu ‘Umar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda :
إن الله ليدفع بالمسلم الصالح عن مائة أهل بيت
من جيرانه بلاء
”Sesungguhnya Allah menghindarkan bala’ berkat seorang laki-laki shalih,
seratus keluarga dari tetangganya.”
Lalu Ibn ‘Umar mengutip firman
Allah yang Artinya : “Seandainya
Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang
lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan)
atas semesta alam.” HR. Thabrani.
Dari Tsauban seraya memarfu’kan hadits berkata :
لا يزال فيكم سبعة
بهم تنصرون وبهم تمطرون وبهم ترزقون حتى يأتي أمر الله
”Di tengah kalian senantiasa ada 7 orang wali di mana berkat mereka
kalian diberi pertolongan, hujan dan rizki sampai tiba hari kiamat.”
Dari ‘Ubadah ibn Shamit RA
berkata : Rasulullah SAW bersabda :
الأبدال في أمتي
ثلاثون ، بهم ترزقون وبهم تمطرون وبهم تنصرون
”Wali badal (Abdaal) dalam ummatku ada 30. Berkat mereka kalian diberi
hujan dan mendapat pertolongan.”
Qatadah berkata : (إني لأرجو أن يكون الحسن منهم) ”Sungguh saya berharap Hasan Al-Bashri termasuk mereka”. HR. Thabrani.
Empat hadits di atas disebutkan
oleh Al-Hafidh Ibnu Katsir ketika
menafsirkan ayat yang Artinya : "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan
sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia
(yang dicurahkan) atas semesta alam." (Q.S. Al-Baqarah : 251) Ayat ini
layak dijadikan argumen dan dari keempatnya status hadits menjadi shahih.
Dari Anas, berkata : Rasulullah SAW bersabda :
لن تخلو الأرض من
أربعين رجلاً مثل خليل الرحمن ، فبهم تسقون وبهم تنصرون ما مات منهم أحد إلا أبدل
الله مكانه آخر
”Bumi tidak akan sepi dari 40 laki-laki seperti Khalilurrahman Ibrahim
AS. Berkat mereka kalian disirami hujan dan diberi pertolongan. Jika salah
seorang meninggal maka Allah akan menggantinya dengan orang lain.” HR. Thabarani
dalam Al-Awsath dan isnad-isnad
hadits ini hasan. (Majma’uz Zawaaid :
2/62).
Dalam hari mahsyar yang notabene hari tauhid, hari iman dan hari dimana ‘Arsy dimunculkan, akan tampak keutamaan mediator paling agung, pemilik panji (Alliwaa’ al-Ma’qud), kedudukan terpuji, telaga yang didatangi, pemberi syafaa’t yang diterima syafa’atnya dan tidak sia-sia jaminannya untuk orang yang Allah telah berjanji kepada beliau bahwa Allah tidak akan mengecewakan anggapan beliau, tidak akan menghina beliau selamanya, tidak membuat beliau susah serta malu saat para makhluk datang kepada beliau memohon syafaat. Lalu beliau berdiri kemudian tidak kembali kecuali mendapat baju kebaikan dan mahkota kemuliaan yang tergambar dalam perintah Allah kepada beliau : (يا محمد إرفع رأسك واشفع تشفع وسل تعط) “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berilah syafa’at maka syafa’atmu akan diterima dan mohonlah maka kamu akan diberi !”.
MEDIATOR PALING AGUNG
Dalam hari mahsyar yang notabene hari tauhid, hari iman dan hari dimana ‘Arsy dimunculkan, akan tampak keutamaan mediator paling agung, pemilik panji (Alliwaa’ al-Ma’qud), kedudukan terpuji, telaga yang didatangi, pemberi syafaa’t yang diterima syafa’atnya dan tidak sia-sia jaminannya untuk orang yang Allah telah berjanji kepada beliau bahwa Allah tidak akan mengecewakan anggapan beliau, tidak akan menghina beliau selamanya, tidak membuat beliau susah serta malu saat para makhluk datang kepada beliau memohon syafaat. Lalu beliau berdiri kemudian tidak kembali kecuali mendapat baju kebaikan dan mahkota kemuliaan yang tergambar dalam perintah Allah kepada beliau : (يا محمد إرفع رأسك واشفع تشفع وسل تعط) “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berilah syafa’at maka syafa’atmu akan diterima dan mohonlah maka kamu akan diberi !”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar