PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal
Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani
BAB I (2)
AQIDAH
KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN
KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG
STATUS KHALIQ DAN STATUS
MAKHLUQ
Perbedaan antara status Khaliq dan makhluq adalah garis pemisah antara kufur dan iman. Kami meyakini bahwa orang mencampur-adukkan kedua status ini berarti dia telah kafir. Wal ‘iyadz billah.
Masing-masing dari kedua status di atas memiliki hak-hak spesifik. Namun, dalam masalah ini masih ada hal-hal, khususnya yang berkaitan dengan Nabi dan sifat-sifat eksklusif beliau yang membedakan dengan manusia biasa dan membuat beliau lebih tinggi dari mereka. Hal-hal seperti ini kadang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang memiliki keterbatasan akal, pemikiran, pandangan dan pemahaman. Kelompok ini mudah terburu-buru memvonis kafir terhadap mereka yang mengapresiasi hal-hal tersebut dan mengeluarkan mereka dari agama Islam karena menurut kelompok ini menetapkan sifat-sifat khusus untuk Nabi SAW adalah mencampuradukkan antara status Khaliq dan makhluq serta mengangkat status Nabi dalam status ketuhanan. Kami sungguh memohon ampun kepada Allah dari tindakan mencampur-adukkan seperti ini.
Berkat karunia Allah kami mengetahui apa yang wajib bagi Allah dan Rasul serta mengetahui apa yang murni hak Allah dan yang murni hak rasul secara proporsional tidak melampaui batas sampai memberi beliau sifat-sifat khusus ketuhanan yaitu menolak dan memberi, memberi manfaat dan bahaya secara independen (di luar kehendak Allah), kekuasaan yang sempurna dan komprehensif, menciptakan, memiliki, mengatur, satu-satunya yang memiliki kesempurnaan, keagungan dan kesucian dan satu-satunya yang berhak untuk dijadikan obyek beribadah dengan beragam bentuk, cara dan tingkatannya.
Seandainya yang dianggap melampaui batas adalah berlebihan dalam mencintai, taat dan keterikatan dengan beliau maka hal ini adalah sikap yang terpuji dan dianjurkan sebagaimana dalam sebuah hadits :
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم
“Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana
kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn Maryam”.
Maksud dari hadits tersebut
berarti bahwa sanjungan, berlebih-lebihan dan memuji beliau di bawah batas di
atas adalah tindakan terpuji. Seandainya maksud hadits tidak seperti ini
berarti yang dimaksud adalah larangan untuk memberikan sanjungan dan memuji
secara mutlak. Pandangan ini jelas tidak akan diucapkan oleh orang Islam paling
bodoh sekalipun. Wajib bagi kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah dan
diperintahkan untuk memuliakannya. Betul, memang kita wajib untuk tidak
mensifati Nabi SAW dengan sifat-sifat ketuhanan apapun. Imam Al-Bushiri RA
berkata :
دع ما ادعته النصارى في نبيهم ::
واحكم بما شئت مدحاً فيه واحتكم
Jauhilah klaim Nashrani akan Nabi mereka
Berilah beliau pujian sesukamu dengan bahasa yang baik
Memuliakan Nabi SAW tidak dengan
sifat-sifat ketuhanan sama sekali bukan dikategorikan kufur atau kemusyrikan.
Malah diklasifikasikan sebagai salah satu ketaatan dan ibadah yang besar.
Demikian pula setiap orang yang dimuliakan Allah seperti para Nabi, rasul,
malaikat, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Allah berfirman yang
Artinya : “Demikianlah (perintah Allah).
dan Barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketakwaan hati.”(Q.S. Al-Hajj : 32). Kemudian firman Allah : “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa
mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik
baginya di sisi Tuhannya.”
(Q.S. Al-Hajj : 30)
Diantara obyek yang wajib dimuliakan adalah Ka’bah, Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Ketiga benda ini adalah batu namun Allah memerintahkan kita untuk memuliakannya dengan thawaf pada Ka’bah, mengusap Rukun Yamani, mencium Hajar Aswad, sholat di belakang Maqam Ibrahim, dan wukuf untuk berdoa di dekat Mustajar, pintu Ka’bah dan Multazam. Tindakan kita terhadap benda-benda yang disebutkan tadi bukan berarti beribadah kepada selain Allah dan meyakini pengaruh, manfaat, dan bahaya berasal dari selain-Nya. Semua hal ini tidak akan terjadi dari siapapun kecuali Allah SWT.
STATUS MAKHLUQ
Kami meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang bisa mengalami apa yang dialami manusia umumnya seperti sifat-sifat yang temporal dan penyakit-penyakit yang tidak mengurangi kedudukan beliau dan tidak membuat beliau dijauhi. Sebagaimana dikatakan oleh penyusun ‘Aqidatul ‘Awam :
وجائز في حقهم من عرض ::
بغير نقص كخفيف المرض
Para rasul boleh mengalami sifat-sifat yang temporer
Yang tidak mengurangi kedudukan mereka seperti sakit ringan.
Rasulullah juga adalah seorang
hamba yang tidak memiliki kemampuan memberi manfaat, bahaya, mati, hidup
membangkitkan kepada dirinya sendiri kecuali apa yang telah dikehendaki Allah.
Firman Allah yang Artinya : Katakanlah:
"Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan
bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki
Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman".(Q.S. Al-A`raaf :188)
Beliau juga telah mengemban
risalah, menyampaikan amanah, menyadarkan ummat, membuang kesedihan dan
berjihad fii sabilillah sampai ajal
menjemputnya. Beliau berpulang ke sisi Allah dalam kondisi ridho dan mendapat
keridhoan, seperti digambarkan dalam firman Allah yang Artinya : “Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya
mereka akan mati (pula).” (Q.S. Az-Zumar : 30). Dalam ayat lain : “Kami
tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad);
maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Q.S. Al-Anbiyaa` : 34)
Kehambaan adalah sifat beliau
yang paling mulia. Karena itu beliau membanggakannya dan berkata : “Saya hanyalah seorang hamba”. Allah
menyifati beliau dengan kehambaan dalam kedudukan tertinggi : “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya
pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S.Al-Israa
: 1). Kemudian firman Allah yang lain : "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan
ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya." (Q.S.
Al.-Jinn : 19)
Kemanusiaan adalah letak sesungguhnya kemu’jizatan Rasulullah. Beliau adalah manusia dari jenis manusia namun berbeda dengan manusia biasa. Beliau memiliki perbedaan yang tidak mungkin dikejar atau disamakan dengan manusia biasa. Sebagaimana penilaian beliau tentang dirinya :
إني لست كهيئتكم إني أبيت عند ربي يطعمني
ويسقيني
“Saya tidak sama dengan kalian. Sesungguhnya saya bermalam di sisi Allah
diberi kekuatan sebagaimana orang yang makan dan minum”.
Berdasarkan paparan di atas maka jelaslah bahwa status kemanusian beliau wajib disertai dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan manusia umumnya yaitu menyebut keistimewaan-keistimewaan beliau yang eksklusif dan sifat-sifat beliau yang terpuji. Perlakuan ini bukan hanya diberikan khusus untuk Nabi Muhammad SAW namun juga berlaku untuk rasul-rasul yang lain agar penilaian kita kepada mereka proporsional. Karena penilaian kepada para rasul semata-mata dipandang dari sisi kemanusiaan saja tanpa penilaian lain adalah pandangan jahiliyah yang musyrik. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak dalil mengenai masalah ini. Diantaranya adalah :
-
Ucapan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh dalam kisah yang
diceritakan Allah tentang mereka, yang Artinya : “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak
melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti Kami, dan
Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang
hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak melihat kamu
memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu
adalah orang-orang yang dusta".( Q.S. Hud : 27).
-
Ucapan kaum Nabi Musa dan Nabi Harun terhadap mereka
berdua dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka, yang artinya : “Dan mereka berkata: Apakah (patut) kita
percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani
Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (Q.S. Al-Mu’minuun
: 47 )
-
Ucapan kaum Tsamud kepada Nabi mereka Shalih dalam
peristiwa yang diceritakan Allah tentang mereka yang artinya, : “Kamu tidak lain melainkan seorang manusia
seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang Termasuk
orang-orang yang benar". (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 154).
-
Ucapan Penduduk Aikah
kepada Nabi mereka Syu’aib dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka
yang artinya : “Mereka berkata:
"Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir.
Dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti Kami, dan Sesungguhnya
Kami yakin bahwa kamu benar-benar Termasuk orang-orang yang berdusta”. (Q.S.
Asy-Syu’araa’ : 186).
-
Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang
memandang beliau semata-mata sebagai manusia dalam kisah yang diceritakan Allah
tentang mereka :
”Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? (Q.S. Al-Furqaan : 7)
”Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? (Q.S. Al-Furqaan : 7)
Nabi telah menginformasikan
status dirinya dengan benar akan sifat-sifat luhur dan hal-hal yang melampauai
kebiasaan yang membuatnya berbeda dengan manusia lain.
Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :
Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :
تنام عيناي ولا ينام قلبي
“Kedua mataku terpejam namun hatiku tetap terjaga”.
إني أراكم من وراء ظهري كما أراكم من أمامي
“Saya mampu melihat kalian
dari belakangku sebagaimana melihatmu dari depan”.
أوتيت مفاتيح خزائن الأرض
“Saya dianugerahi
pintu-pintu gudang dunia”.
Meskipun telah wafat, Rasulullah tetap hidup dalam bentuk kehidupan barzakh yang sempurna. Beliau mampu mendengar perkataan, membalas salam dan shalawat orang yang bershalawat sampai kepada beliau. Amal perbuatan ummat disampaikan kepada beliau hingga beliau berbahagia atas perbuatan orang-orang yang baik dan beristighfar terhadap orang-orang yang melakukan dosa. Allah juga mengharamkan bumi untuk memakan jasadnya. Jasad Nabi terlindungi dari hal-hal yang bersifat merusak dan dari apapun yang berada dalam tanah.
Dari Aus ibn Aus R.A , ia berkata , “Rasulullah SAW bersabda :
من أفضل أيامكم يوم
الجمعة : فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة ، فأكثروا عليَّ من الصلاة
فيه ، فإن صلاتكم معروضة عليَّ . قالوا : يا رسول الله ! وكيف تعرض صلاتنا عليك
وقد أرمت يعني بليت ؟ فقال : إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء
“Salah satu hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at ; di hari
itu Adam diciptakan dan wafat, Israfil meniup sangkakala dan matinya seluruh
makhluk. Maka perbanyaklah bershalawat untukku pada hari Jum’at. Karena
shalawat kalian disampaikan kepadaku”. Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat
kami sampai kepadamu padahal tubuhmu telah hancur?” tanya para sahabat. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla
mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” Jawab Rasulullah. ( HR.
Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam kitab shahihnya serta Al-Hakim
yang menilai hadits ini shahih ).
Menyangkut keutuhan jasad para Nabi
, Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi
menyusun sebuah risalah khusus menyangkut hal tersebut yang berjudul ‘Inbaa’ul Adzkiyaa’ bi Hayaatil Anbiyaa’.
Dari ibnu Mas’ud Rasulullah SAW
bersabda :
حياتي خير لكم تحدثون
ويحدث لكم ، فإذا أنا مت كانت وفاتي خيراً لكم تعرض عليَّ أعمالكم فإن رأيت خيراً
حمدت الله وإن رأيت شراً استغفرت لكم
“Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian berbicara dan saya berbicara
kepada kalian. Dan jika saya meninggal dunia maka kewafatanku lebih baik buat
kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku melihat amal baik
aku memuji Allah dan jika aku melihat amal buruk aku beristighfar buat kalian”.
Al-Haitsami berkata, “Hadits ini
diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan standar perawi
hadits shahih.
Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau berkata :
ما من أحد يسلم عليَّ
إلا رد الله عليَّ روحي حتى أرد عليه السلام
“Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah
mengembalikan nyawaku hingga aku membalas salamnya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Sebagian ulama menafsirkannya dengan mengembalikan kemampuan berbicara beliau.
Dari ‘Ammar ibn Yaasir, ia
berkata, “Rasulullah SAW bersabda :
إن الله وكّل بقبري
ملكاً أعطاه الله أسماء الخلائق ، فلا يصلي عليَّ أحد إلى يوم القيامة إلا أبلغني
باسمه واسم أبيه ، هذا فلان بن فلان قد صلى عليك
“Sesungguhnya Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang diberi Allah
nama semua makhluk pada kuburanku. Maka tidak ada seorang pun hingga hari
kiamat yang menyampaikan shalawat untukku kecuali malaikat itu menyampaikan
kepadaku namanya dan nama ayahnya ; ini adalah si fulan anak si fulan yang
telah menyampaikan shalawat untukmu”. HR. Al-Bazzaar dan Abu al-Syaikh ibn
Hibban yang redaksinya : Rasulullah SAW bersabda :
إن لله تبارك وتعالى
ملكاً أعطاه أسماء الخلائق فهو قائم على قبري إذا مت ، فليس أحد يصلي عليَّ إلا
قال : يا محمد ! صلى عليك فلان بن فلان ، قال : فيصلي الرب تبارك وتعالى على ذلك
الرجل بكل واحدة عشراً
“Sesungguhnya ada malaikat Allah yang telah diberi semua nama makhluk
oleh Allah. Ia berdiri di atas kuburanku jika aku meninggal. Maka tidak ada
seorang pun yang menyampaikan shalawat kepadaku kecuali si malaikat berkata,
“Wahai Muhammad! fulan bin fulan telah menyampaikan shalawat untukmu”. Rasulullah
berkata, “Rabb Tabaraka wa Ta’ala
merahmatinya. Untuk satu shalawat dibalas 10 rahmat”. Dalam Al-Kabiir At-Thabaraani meriwayatkan
hadits seperti ini.
Meskipun Rasulullah SAW telah wafat namun keutamaan, kedudukan dan derajatnya di sisi Allah tetap abadi. Mereka yang beriman tidak akan ragu akan fakta ini. Karena itu, bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya kembali kepada keyakinan keberadaan hal-hal di muka dan meyakini beliau dicintai dan dimuliakan Allah serta keimanan kepada beliau dan kepada risalahnya. Dan tawassul bukanlah berarti beribadah kepada Nabi SAW. Karena beliau betapapun tinggi derajat dan kedudukannya tetaplah seorang makhluk yang tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfaat tanpa izin Allah. Allah SWT berfirman yang Artinya, : “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Q.S. Al-Kahfi : 110)
ASPEK-ASPEK YANG SAMA ANTARA STATUS KHALIQ DAN MAKHLUQ TIDAK BERTENTANGAN DENGAN KESUCIAN ALLAH
Banyak orang keliru dalam
memahami sebagian aspek-aspek yang sama antara status Khaliq dan makhluq.
Mereka menganggap bahwa menisbatkan aspek-aspek di atas kepada status makhluk
adalah menyekutukan Allah. Diantara aspek-aspek di atas adalah seperti
sifat-sifat khusus kenabian yang salah dipahami oleh sebagaian orang dan
menganalogikannya dengan analogi kemanusiaan. Karena itu mereka menilai terlalu
berlebihan bila aspek-aspek tersebut disandarkan kepada Rasulullah. Mereka
menilai bahwa menisbatkan aspek-aspek itu kepada Rasulullah berarti mensifati beliau
dengan sebagian sifat-sifat ketuhanan.
Pandangan ini adalah sebuah kebodohan murni. Karena Allah SWT bebas memberi siapa saja dan sesuai kehendak-Nya tanpa ada tekanan yang mengharuskan. Tapi semata-mata karunia-Nya kepada orang yang hendak Dia mulyakan, Dia tinggikan derajat dan hendak ditonjolkan kelebihannya atas orang lain. Hal ini bukan berarti melepas hak-hak dan sifat-sifat ketuhanan. Hak-hak sifat-sifat ketuhanan tetap terpelihara sesuai dengan kedudukan Allah SWT. Jika ada makhluk yang memiliki salah satu dari hak atau sifat ketuhanan maka harus disesuaikan dengan kondisi kemanusiaan, yaitu harus terbatasi dan diperoleh lewat izin, anugerah, dan kehendak Allah.
Bukan karena kekuatan makhluk, rencana dan perintahnya. Karena manusia adalah makhluk lemah yang tidak mampu menimpakan bahaya, memberi manfaat, kematian , kehidupan dan kebangkitan dari kubur untuk dirinya sendiri. Banyak hal-hal yang dalil yang menunjukkanya sebagai hak Allah, namun Allah SWT memberikannya kepada Nabi SAW dan orang lain. Berangkat dari penjelasan di atas, pensifatan Nabi SAW dengan hal-hal di atas tidak meninggikannya sampai ke derajat ketuhanan atau menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah SWT.Di antara aspek-aspek di atas adalah :
Syafaat,
Syafaat adalah milik Allah. Allah
berfirman yang Artinya : “Katakanlah:
Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya." (Q.S. Az-Zumar : 44), Namun
syafaat juga dimiliki oleh Rasul SAW dan orang lain atas kehendak Allah seperti
terdapat dalam sebuah hadits :
أوتيت الشفاعة
"Saya dikaruniai syafaat”, kemudian :
أنا أول شافع ومشفع
“Saya adalah orang pertama yang memberi syafaat dan diterima syafaatnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar