PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal
Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani
BAB I (6)
AQIDAH
KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN
KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG
AJAKAN PARA IMAM
TASHAWWUF UNTUK MENGAPLIKASIKAN
SYARIAH
Tashawwuf, obyek yang teraniaya dan senantiasa dicurigai, sangat minim mereka yang bersikap adil dalam menyikapinya. Justru sebagian kalangan dengan keterlaluan dan tanpa rasa malu mengkategorikannya dalam daftar karakter negatif yang mengakibatkan gugurnya kesaksian dan lenyapnya sikap adil, dengan mengatakan, “Fulan bukan orang yang bisa dipercaya dan informasinya ditolak.” Mengapa ? Karena ia seorang sufi. Anehnya, saya melihat sebagian mereka yang menghina tashawwuf, menyerang dan memusuhi pengamal tashawwuf bertindak dan berbicara tentang tashawwuf, kemudian tanpa sungkan mengutip ungkapan para imam tashawwuf dalam khutbah dan ceramahnya di atas mimbar-mimbar Jum’at kursi-kursi pengajaran.
Dengan gagah dan percaya diri ia mengatakan, “Berkata Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi.” Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi adalah tokoh-tokoh tashawwuf yang kitab-kitab tashawwuf penuh dengan ucapan, informasi, kisah-kisah teladan, dan karakter mereka. Jadi, saya tidak mengerti, apakah ia bodoh atau pura-pura bodoh? Buta atau pura-pura buta? Saya ingin mengutip pandangan para tokoh tashawwuf menyangkut syari’ah Islam agar kita mengetahui sikap mereka sesungguhnya.
Karena yang wajib adalah kita mengetahui seseorang lewat pribadinya sendiri dan manusia adalah orang terbaik yang berbicara mengenai pandangannya dan yang paling dipercaya mengungkapkan apa yang dirahasiakan. Al-Imam Junaid RA berkata : “ Semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali orang yang mengikuti jejak Rasulullah, sunnahnya dan setia pada jalan ditempuh beliau. Karena semua jalan kebaikan terbuka untuk Nabi dan mereka yang mengikuti jejak beliau.
”Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Yazid Al-Bustomi suatu hari berbicara pada para muridnya, “ Bangunlah bersamaku untuk melihat orang mempopulerkan dirinya sebagai wali. ” Lalu Abu Yazid dan murid-muridnya berangkat untuk mendatangi wali tersebut. Kebetulan wali tersebut hendak menuju masjid dan meludah ke arah kiblat. Abu Yazid pun berbalik pulang dan tidak memberi salam. “ Orang ini tidak dapat dipercaya atas satu etika dari beberapa etika Rasulullah, maka bagaimana mungkin ia dapat dipercaya atas klaimnya tentang kedudukan para wali dan shiddiiqin, “ kata Abu Yazid. Dzunnuun Al-Mishri berkata, "Poros dari segala ungkapan (Madaarul Kalam) ada empat; Cinta kepada Allah Yang Maha Agung, benci kepada yang sedikit, mengikuti Al-Quran, dan khawatir berubah menjadi orang celaka.
Salah satu indikasi orang yang cinta kepada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Saw dalam budi pekerti, tindakan, perintah dan sunnahnya." As-Sirri As-Siqthi berkata, “Tashawwuf adalah identitas untuk tiga makna ; Shufi (pengamal tashawwuf) adalah orang yang cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, tidak berbicara menggunakan bathin menyangkut ilmu yang bertentangan dengan pengertian lahiriah Al-Kitab dan As-Sunnah, dan karomahnya tidak mendorong untuk menyingkap tabir-tabir keharaman Allah.
Abu Nashr Bisyr ibn Al-Harits Al-Hafi
berkata, “ Saya bermimpi bertemu Nabi SAW. “ Wahai Bisyr, tahukah kamu kenapa
Allah meninggikan derajatmu mengalahkan teman-temanmu? Tanya Beliau. “ Tidak
tahu, Wahai Rasulullah,” Jawabku. “ Sebab Engkau mengikuti sunnahku, mengabdi
kepada orang salih, memberi nasihat pada teman-temanmu dan kecintaanmu kepada
para sahabat dan keluargaku. Inilah faktor yang membuatmu meraih derajat
orang-orang yang baik (Abror).”
Abu Yazid ibn ‘Isa ibn Thoifur
Al-Bashthomi berkata, “Sungguh terlintas di hatiku untuk memohon kepada Allah
agar mencukupi biaya makan dan biaya perempuan, kemudian saya berkata.
“Bagaimana boleh saya memohon ini kepada Allah padahal Rasulullah tidak pernah
memohon demikian.” Akhirnya saya tidak memohon ini kepada Allah. Kemudian Allah
mencukupi biaya para perempuan hingga saya tidak peduli, apakah perempuan
menghadapku atau tembok.
Abu Yazid juga pernah berkata, “Jika engkau memandang seorang laki-laki diberi beberapa karomah hingga ia mampu terbang di udara, maka janganlah engkau tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya menghadapi perintah dan larangan Allah, menjaga batas-batas yang digariskan Allah dan pelaksanaannnya terhadap syari’ah.”
Sulaiman Abdurrahaman ibn ‘Athiah
Al-Daaraani berkata, “Terkadang, selama beberapa hari terasa di hatiku satu
noktah dari beberapa noktah masyarakat. Saya tidak menerima isi dari hati saya
kecuali dengan dua saksi adil ; Al-Qur’an dan As-Sunnah. Abul Hasan Ahmad
ibn Abil Hawaari berkata, “Siapapun yang mengerjakan perbuatan tanpa mengikuti
sunnah Rasulullah maka perbuatan itu sia-sia.”
Abu Hafsh ‘Umar ibn Salamah Al-Haddaad berkata, “Barangsiapa yang tidak mengukur semua tindakannya setiap saat dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, dan tidak berburuk sangka dengan apa yang terlintas dalam hatinya, maka janganlah ia dimasukkan dalam daftar para tokoh besar (Diwaan Ar-Rijaal).
Abul Qasim Al-Junaid ibn Muhammad
berkata, “Siapapun yang tidak memperhatikan Al-Qur’an dan tidak mencatat
Al-Hadits, ia tidak bisa dijadikan panutan dalam bidang ini (tashawwuf), karena ilmu kita dibatasi
dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”Ia juga berkata, “ Madzhabku ini dibatasi dengan
prinsip-prinsip Al-Kitab dan As-Sunnah dan ilmuku ini dibangun di atas fondasi
hadits Rasulullah.”
Abu ‘Utsman Sa’id ibn Ismail
Al-Hairi berkata, “Saat sikap Abu Utsman berubah, maka anaknya, Abu Bakar
merobek-robek qamis yang melekat pada tubuhnya, lalu Abu ‘Utsman membuka
matanya dan berkata, “Wahai Anakku, mempraktekkan sunnah dalam penampilan
lahiriah itu indikasi kesempurnaan batin.”Ia juga berkata, “Bersahabat dengan
Allah itu dengan budi pekerti yang luhur dan senantiasa takut kepada-Nya.
Bersahabat dengan Rasulullah itu dengan mengikuti sunnahnya dan senantiasa
mempraktekkan ilmu lahiriah. Bersahabat dengan para wali dengan menghormati dan
mengabdi. Bersahabat dengan keluarga itu dengan budi pekerti yang baik.
Bersahabat dengan kawan-kawan itu dengan senantiasa bermuka manis sepanjang
bukan perbuatan dosa. Dan bersahabat dengan orang bodoh itu dengan mendoakan
dan rasa belas kasih. Ia juga berkata, “Barangsiapa yang memposisikan
As-Sunnah sebagai pimpinannya dalam ucapan dan tindakan maka ia akan berbicara
dengan hikmah. Dan barangsiapa memposisikan hawa nafsu sebagai pimpinannya
dalam ucapan dan tindakan maka ia akan berbicara dengan bid’ah. Allah SWT
berfirman yang Artinya : "Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat
petunjuk." (Q.S. An-Nuur : 54)
Abul Hasan Ahmad ibn Muhammad
Al-Nawawi mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang mengklaim kondisi bersama
Allah yang membuatnya terlepas dari batasan ilmu syari’at maka janganlah engkau
mendekatinya.”Abul Fawaris Syah ibn Syuja’ Al-Karmani berkata, “Barangsiapa
memejamkan matanya dari hal-hal yang diharamkan, mengendalikan nafsunya dari
syahwat, menghidupkan bathinnya dengan senantiasa merasakan kehadiran Allah (muraqabat) dan menghidupkan keadaan
lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, dan membiasakan diri memakan barang halal,
maka firasatnya tidak akan meleset.”
Abul Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn
Sahl ibn ‘Atha’ mengatakan, “Barangsiapa menekan dirinya untuk mengamalkan
etika-etika syari’at maka Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya ma’rifat
dan dianugerahi kedudukan mengikuti Al-Habib Rasulullah SAW dalam segala
perintah, larangan dan budi pekerti beliau SAW.” Ia juga mengatakan,
“Semua yang ditanyakan kepadaku carilah pada belantara syari’at. Jika engkau
tidak menemukannya, carilah di medan hikmah. Jika tidak menemukannya, takarlah
dengan tauhid. Dan jika tidak menemukannya di tiga tempat pencarian ini, maka
lemparkanlah ia ke wajah setan.”
Abu Hamzah Al-Baghdadi Al-Bazzar mengatakan, “Siapapun yang mengetahui jalan Allah maka Dia akan memudahkan untuk menempuhnya. Dan tidak ada petunjuk jalan menuju Allah kecuali mengikuti Rasulullah SAW dalam sikap, tindakan dan ucapan beliau.”
Abu Ishaq Ibrahim ibn Dawud
Al-Ruqi mengatakan, “ Indikator cinta kepada Allah adalah memprioritaskan
ketaatan kepada Allah dan mengikuti Nabi-Nya SAW.” Mamsyad Ad-Dinawari berkata,
“Etika murid adalah selalu dalam menghormati masyayikh (guru), membantu kawan-kawan, terlepas dari faktor-faktor
penyebab, dan menjaga etika syari’at untuk dirinya.”
Abu Abdillah ibn Munazil berkata,
“Tidak ada seseorangpun yang menelantarkan salah satu kefardluan Allah kecuali
Allah akan menimpakan musibah dengan menyia-nyiakan sunnah. Dan Allah tidak
menimpakan musibah seseorang dengan menelantarkan sunnah kecuali ia hendak
diberi musibah dengan bid’ah.”
SUBSTANSI KELOMPOK IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI
(AL-ASYAA’IRAH)
Banyak kaum muslimin tidak mengenal madzhab Al-Asya’irah (kelompok ulama penganut madzhab Imam Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, dan metode mereka dalam bidang aqidah. Sebagian kalangan, tanpa apriori, malah menilai mereka sesat atau telah keluar dari Islam dan menyimpang dalam memahami sifat-sifat Allah. Ketidaktahuan terhadap madzhab Al-Asya’irah ini adalah faktor retaknya kesatuan kelompok ahlussunnah dan terpecah-pecahnya persatuan mereka, sehingga sebagian kalangan yang bodoh memasukkan Al-Asya’irah dalam daftar kelompok sesat.
Saya tidak habis pikir, mengapa
kelompok yang beriman dan kelompok sesat disatukan? Dan mengapa ahlussunnah dan
kelompok ekstrim Mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?. "Maka Apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan
orang-orang yang berdosa (orang kafir)." (Q.S. Al-Qalam : 35). Al-Asya’irah
adalah para imam simbol hidayah dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka
memenuhi bagian timur dan barat dunia dan semua orang sepakat atas keutamaan,
keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah yang menentang
kesewenang-wenangan Mu’tazilah.
Dalam versi Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, Al-Asya’irah digambarkan sbb : Para ulama adalah pembela ilmu agama
dan Al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin).
Al-Fataawaa, jilid 4. Al-Asyaa’irah
(penganut madzhab Al-Asy’ari) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli
fiqih dan ahli tafsir seperti :
• Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar Al-‘Asqalani, yang tidak disangsikan
lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari.
• Syaikhul Ulama Ahlissunnah, Al-Imam An-Nawaawi, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak
kitab populer.
• Syaikhul Mufassirin Al-Imam
Al-Qurthubi penyusun tafsir Al-Jaami’ li
Ahkaamil Qur’an.
• Syaikhul Islam Ibnu Hajar
Al-Haitami, penyusun kitab Az-Zawaajir
‘aniqtiraafil Kabaa’ir.
• Syaikhul Fiqh , Al-Ahujjah Ats-Tsabat (Hujjah Terpercaya ) Zakaaria
Al-Anshari.
• Al-Imam Abu Bakar Al-Baaqilani
• Al-Imam Al-Qashthalani.
• Al-Imam An-Nasafi
• Al-Imam Asy-Syarbini
• Abu Hayyan An-Nahwi, penyusun
tafsir Al-Bahru Al-Muhith.
• Al-Imam Ibnu Juza, penyusun At-Tashil fi ‘Uluumittanziil.
• Dsb.
Seandainya kita menghitung jumlah ulama besar dari ahli hadits, tafsir dan fiqh dari kalangan Al-Asyaa’irah, maka keadaan tidak akan memungkinkan dan kita membutuhkan beberapa jilid buku untuk merangkai nama para ulama besar yang ilmu mereka memenuhi wilayah timur dan barat bumi. Adalah salah satu kewajiban kita untuk berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa dan mengakui keutamaan orang-orang yang berilmu dan memiliki kelebihan yakni para tokoh ulama, yang telah mengabdi kepada syari’at junjungan para rasul Muhammad SAW.
Kebaikan apa yang bisa kita peroleh jika kita menuding para ulama besar dan generasi salaf shalih telah menyimpang dan sesat ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka bila kita meyakini mereka telah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam? Saya ingin bertanya, “Adakah dari para ulama sekarang dari kalangan doktor dan orang-orang jenius, yang telah mengabdi kepada hadits Nabi SAW sebagaimana dua imam besar ; Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi, semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridloan kepada mereka berdua.”
Lalu mengapa kita menuduh sesat
mereka berdua dan ulama Al-Asyaa’irah yang lain, padahal kita membutuhkan
ilmu-ilmu mereka ? Mengapa kita mengambil ilmu dari mereka jika mereka memang
sesat? Padahal Al-Imam Ibnu Sirin rahimakumullah pernah berkata : Ilmu hadits
ini adalah agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama
kalian. Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para
imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan
mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah.
Maka yang lebih baik adalah tidak
mengikuti metode mereka.” Sebagai ganti dari ungkapan kami menuduh mereka telah
menyimpang dan sesat dan kami marah atas orang yang mengkategorikan mereka
sebagai ahlussunnah. Bila Al-Imam An-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi,
Al-Fakhrurrazi, Al-Haitami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama besar lain tidak
dikategorikan sebagai ahlussunnah wal jama’ah, lalu siapakah mereka yang
termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah?.Sungguh,
dengan tulus kami mengajak semua pendakwah dan mereka yang beraktivitas di
medan dakwah Islam untuk takut kepada Allah dalam menilai ummat Muhammad,
khususnya menyangkut tokoh-tokoh besar ulama dan fuqaha’. Karena, ummat
Muhammad tetap dalam kondisi baik hingga tiba hari kiamat. Dan tidak ada
kebaikan bagi kita jika tidak mengakui kedudukan dan keutamaan para ulama kita
sendiri.
ESENSI-ESENSI YANG SELESAI DENGAN KAJIAN
Polemik berkembang di antara ulama menyangkut banyak substansi persoalan dalam bidang aqidah, yang Allah tidak membebani kita untuk mengkajinya. Dalam pandangan saya polemik ini telah menghilangkan keindahan dan keagungan substansi masalah ini. Misalkan, pro kontra para ulama menyangkut melihatnya Nabi SAW kepada Allah dan bagaimana cara melihatnya, dan perbedaan yang luas antara mereka menyangkut persoalan ini. sebagian berpendapat Nabi melihat Allah dengan hatinya, dan sebagian berpendapat dengan mata. Kedua kubu ini sama-sama mengajukan argumentasi dan membela pendapatnya dengan hal-hal yang tak berguna.
Dalam pandangan saya perbedaan ini tidak berguna sama sekali. Justru menimbulkan dampak negatif yang lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Apalagi jika masyarakat awam mendengar polemik yang pasti menimbulkan keragu-raguan di hati mereka ini. Jika kita mau mengesampingkan polemik ini dan menganggap cukup dengan menyajikan sunstansi persoalan ini apa adanya maka niscaya persoalan ini tetap dimuliakan dan dihargai dalam sanubari kaum muslimin, dengan cara kita mengatakan bahwa Rasulullah SAW melihat Tuhannya. Cukup kita berkata demikian sedangkan menyangkut cara melihat dan lain sebagainya biarlah menjadi urusan Nabi.
(وكلم الله موسى تكليما) *
Salah satu substansi persoalan di
atas adalah polemik yang berkembang di antara para ulama menyangkut substansi
firman Allah SWT dan perbedaan luas dalam masalah ini. sebagian berpendapat
bahwa firman Allah adalah suara hati (kalam
nafsi) dan sebagian lagi berpendapat bahwa kalam Allah berhuruf dan
bersuara. Saya sendiri berpendapat kedua pihak ini sama-sama mencari substansi
mensucikan Allah dan menjauhi syirik dalam berbagai bentuknya.
Persoalan kalam (firman Allah) adalah kebenaran yang tidak bisa diingkari, karena tidak meniadakan kesempurnaan ilahi. Ini adalah pandangan dari satu aspek. Ditinjau dari aspek lain, sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib dipercayai dan ditetapkan, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah sendiri. Apa yang saya yakini dan saya ajak adalah menetapkan kebenaran ini tanpa perlu membicarakan bagaimana cara dan bentuknya. Kita tetapkan bahwa Allah memiliki sifat kalam dan berkata : Ini adalah kalam Allah dan Allah SWT adalah Dzat yang berbicara. Kita cukup berbicara seperti ini dan menjauhi mengkaji apakah kalam itu kalam nafsi atau kalam yang bukan nafsi yang berhuruf dan bersuara atau tidak berhuruf dan tidak bersuara.
Karena pembahasan seperti ini berlebihan, yang Nabi Muhammad sebagai pembawa tauhid tidak pernah membicarakannya. Lalu mengapa kita menambahkan apa yang datang dibawa oleh Nabi ? Bukankah hal semacam ini adalah salah satu bid’ah terburuk ? Subhaanaka Haadzaa Buhtaanun ‘Adhiim. Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita tentang kalam pada saat kita berkumpul dengan beliau di sisi Allah SWT.
Kami mengajak agar pembicaraan kita selamanya menyangkut substansi kalam dan masalah sejenis terlepas dari pembahasan mengenai cara dan bentuknya
(إني أراكم من خلفي)
*”Saya Mampu Melihatmu dari Belakang.”
Salah satu substansi persoalan di
atas adalah polemik yang terjadi di antara ulama menyangkut substansi sabda Nabi
SAW, “Sesungguhnya saya bisa melihat
kalian dari belakang sebagaimana dari arah depan.” Sebagian ulama
berpendapat bahwa Allah SWT menciptakan dua mata di arah belakang.
Sebagian berpendapat bahwa Allah SWT menjadikan kedua mata beliau yang di depan memiliki kekuatan yang mampu menembus bagian belakang. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah SWT membalik obyek yang ada di belakang Nabi sehingga berada di depan beliau. Semua ini adalah interpretasi berlebihan yang membuat persoalan ini kehilangan keindahan dan keelokannya sekaligus meredupkan kewibawaan dan keagungannya di hati manusia. Adapun keberadaan Nabi mampu melihat orang yang berada di belakang sebagaimana melihat orang yang ada di depan maka ini adalah fakta yang telah disampaikan beliau sendiri dalam hadits shahih.
Maka tidak ada ruang sama sekali untuk membantahnya. Namun apa yang saya ajak dan menjadi pendapat saya adalah menetapkan fakta ini apa adanya tanpa perlu mengkaji cara dan bentuknya. Kita wajib meyakini kemungkinan terjadinya dan dampaknya, dengan cara menyaksikan salah satu hal yang di luar kebiasaan yang meminggirkan faktor penyebab untuk menampakkan kekuasaan Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa serta kedudukan Rasulullah SAW.
*Jibril menyamar sebagai Seorang lelaki (جبريل يتمثل رجلاً)
Para ulama bersilang sengketa
menyangkut penyamaran Jibril AS saat datang membawa wahyu dalam bentuk seorang
lelaki padahal fisik Jibril sangat luar biasa besar.Sebagian berpendapat bahwa
Allah membuang kelebihan dari fisiknya. Sebagian lain menyatakan sebagian
fisiknya menyatu dengan yang lain sehingga menyusut menjadi kecil. Menurut
hemat saya interpretasi ini tidak berguna. Saya meyakini Allah mampu membuat
Jibril menyamar dalam bentuk seorang laki-laki dan ini merupakan fakta yang telah
disaksikan oleh banyak sahabat.
Bagi saya tidaklah penting
mengetahui cara penyamaran Jibril dalam bentuk seorang laki-laki dan saya
mengajak saudara-saudara kita sesama pelajar untuk menyampaikan fakta ini tanpa
perlu menyinggung perbedaan-perbedaan yang menyertainya agar fakta ini tetap
besar dan agung dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar