PAHAM-PAHAM
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
YANG HARUS DILURUSKAN
Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal
Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani
BAB I (5)
AQIDAH
KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN
KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG
BAJU KEPALSUAN
Mereka yang mengklaim sebagai orang yang paling memahami substansi permasalahan dan kemudian bersikap kekanak-kanakan pada masalah tersebut sangatlah banyak jumlahnya. Namun sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa dan tidak layak dianggap memahaminya.
وكل
يدعي وصلاً بليلى :: وليلى لا تقر لهم بذاكا
Semua mengaku punya hubungan kasih dengan Laila.
Tapi Laila menampik pengakuan mereka.
Fakta menyedihkan ini ditambah
lagi dengan sikap mereka yang mencoreng diri sendiri dan merusak reputasi.
Sikap mereka tepat dengan apa yang digambarkan secara detail dalam sebuah
hadits :
المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور
"Orang yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak bisa membuat
kenyang laksana orang yang mengenakan dua baju kebohongan".
Kita, umat Islam mendapat cobaan dengan banyaknya orang-orang seperti di atas. Mereka mengeruhkan kedamaian umat, memecah belah antar kelompok dan menbangkitkan konflik antar sesama saudara dan anak dengan ayahnya. Mereka berusaha meluruskan persepsi-persepsi Islam lewat pintu pendurhakaan terhadap ulama, dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran salaf dengan jalan pengingkaran, dan mengganti kebajikan, tutur kata yang baik dan belas kasih dengan sikap keras, membatu, etika yang buruk dan minimnya simpati.
Diantara para pengklaim adalah
mereka yang menganggap diri mereka mengikuti jalan tasawwuf padahal mereka adalah orang yang paling jauh dari
substansi dan essensi tasawwuf.
Mereka menodai tasawwuf, mengotori
kemuliaannya, merusak ajarannya dan melontarkan kritik pedas terhadap tasawwuf dan para imamnya dari para ahli
ma’rifat dan para guru pembimbing. Kami tidak mengenal takhayyul, kebatilan,
kebohongan dan tipuan dalam tasawwuf.
Kami juga tidak mengenal teori-teori filsafat, ide-ide luar atau aqidah-aqidah musyrik baik sinkretisme atau manunggaling kawula gusti. Kami lepas tangan kepada Allah dari muatan-muatan sesat tasawwuf dan mengkategorikan semua pandangan yang berlawanan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dan tidak bisa dita’wil adalah kebohongan yang menyusup dan ditambahkan oleh tangan-tangan jahil dan jiwa-jiwa yang lemah.
Dengan perilaku yang baik dan
budi pekerti yang bersih tampaklah kepahlawanan generasi awal, para tokoh, para
imam dan para pahlawannya. Dan tampak di hadapan kita sosok Islam yang paling
cemerlang, sempurna, dan contoh paling luhur dan suci. Sejarah telah
menginformasikan kepada kita cerita kemuliaan, kebanggaan, kehormatan,
keagungan, jihad, perjuangan, dan pelajaran-pelajaran tentang peradaban Islam.
Berangkat dari fakta di muka kami meyakini bahwa kebangkitan-kebangkitan besar tidak akan terbangun kecuali di atas risalah-risalah spiritual dan inspirasi-inspirasi iman dan tidak akan berdiri kecuali di atas etika-etika luhur yang kokoh yang model-modelnya digali dari akidah-akidah suci.
Sesungguhnya sifat-sifat etik, psikologis dan spiritual adalah modal dasar bangsa. Ketiga faktor ini adalah asset besar yang membentuk ummat dan mengantarkan umat manusia menuju cita-cita luhur. Orang yang mengkaji sejarah hidup generasi salaf shalih dan tokoh-tokoh sufi di tengah masyarakat, akan melihat bagaimana contoh-contoh ideal dan prinsip-prinsip ini bisa menjadi faktor langsung terjadinya rejilidusi-rejilidusi yang nyata, tercatat dan populer dalam sejarah Islam.
Mereka tidak memiliki pengaruh dan kekuatan kecuali iman dalam tatarannya yang paling tinggi. Iman yang panas, berkobar-kobar, dan hidup yang berlandaskan kerinduan dan kecintaan kepada Allah. Sebuah keimanan yang mampu menyalakan api yang menyala-nyala dan menatap selamanya kepada Allah dalam hati para pengikutnya.
Orang yang mengkaji juga akan melihat bagaimana di tengah mereka seorang laki-laki bisa hidup dalam maqam al-ihsan (kondisi dimana seseorang merasakan kehadiran Allah), ia melihat Allah dalam segala sesuatu, dan merasa takut kepada-Nya dalam segala aktivitasnya. Ia senantiasa merasa takut kepada Allah dalam setiap tarikan nafasnya tanpa meyakini adanya penitisan, bersatunya Tuhan dengannya, dan peniadaan eksistensi Tuhan. Iman ini adalah iman yang membangunkan kesadaran holistik dalam kehidupan, menyentak rasa yang dalam akan ketuhanan yang berjalan dalam alam semesta, dan yang hidup dalam sudut-sudut paling dasar dari alam semesta, yang mengetahui apa-apa yang terlintas di hati, bisikan-bisikan rahasia, mata yang mencuri pandang dan apa yang disembunyikan dalam hati.
ANTARA SEBAIK-BAIK BID’AH DAN SEBURUK-BURUKNYA
Di antara mereka yang mengklaim memahami substansi permasalahan adalah orang-orang yang menilai diri mereka sebagai penganut manhaj salaf shalih. Mereka bangkit mendakwahkan gerakan salafiyah dengan cara tak beradab dan keterlaluan, fanatisme buta, akal yang kosong, pemahaman-pemahaman yang dangkal dan tidak toleran dengan memerangi segala hal yang baru dan menolak setiap kreat4itas yang berguna dengan anggapan bahwasemua hal itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat tanpa memilah klasifikasinya. Padahal spirit syari’ah Islam mengharuskan kita membedakan bermacam-macam bid’ah dan mengatakan bahwa : sebagian bid’ah ada yang baik dan sebagian ada yang buruk.
Klasifikasi ini adalah tuntutan akal yang cemerlang dan pandangan yang dalam. Klasifikasi bid’ah ini adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi klasik kaum muslimin seperti Al-Imam Al-‘Izz ibn ‘Abdissalaam, Al-Nawaawi, Al-Suyuuthi, Al-Mahalli dan Ibnu Hajar. Hadits-hadits Nabi itu saling menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.
Karena itu kita menemukan banyak
hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal yang jernih, fikiran yang
dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang sensitif yang digali dari
samudera syari’ah, yang bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan umat, dan
mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam batasan kaidah-kaidah
syari’at dan teks-teks Al-Qur’an dan hadits yang mengikat.Salah satu contoh
dari hadits-hadits di muka adalah hadits : (كل بدعة ضلالة) "Setiap
bid’ah itu sesat." Bid’ah dalam hadits ini harus ditafsirkan sebagai bid’ah sayyi’ah ( bid’ah tercela ) yang
tidak termasuk dalam naungan dalil syar’i.
Penafsiran semacam ini terjadi pula dalam hadits lain seperti :
لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد
"Tidak ada sholatnya seseorang yang tinggal di dekat masjid kecuali
dilakukan di masjid."
Hadits ini meskipun menunjukkan
pengkhususan akan tidak sahnya sholat tetangga masjid kecuali di masjid namun
keumuman-keumuman hadits memberikan batasan bahwa sholat tersebut tidak
sempurna bukan tidak sah, disamping masih adanya perbedaan dalam kalangan ulama.
Kemudian :
لا صلاة بحضرة الطعام
“Tidak ada sholat dengan siapnya makanan.”
Para ulama menafsirkan bahwa
sholat tersebut tidak sempurna.
لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه
“Tidak beriman salah satu dari kalian sehingga mencintai untuk
saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”
والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن ، قيل : من
يا رسول الله ؟ قال : من لم يأمن جاره بوائقه “Demi Allah, tidak
beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan
kepada beliau, “Siapakah wahai Rasulullah”. “Seseorang yang tetangganya merasa
terganggu dengannya”.
Para ulama menafsirkan dengan
tidak adanya iman yang sempurna.
Kemudian :
لا يدخل الجنة قتات
“Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu domba…….
ولا يدخل الجنة قاطع رحم
“Tidak
akan masuk sorga orang yang memutus hubungan kerabat” dan
وعاق لوالديه
“yang
durhaka kepada kedua orang tuanya.”
Para ulama menegaskan bahwa yang
dimaksud tidak akan masuk sorga ialah tidak akan masuk pertama kali atau tidak
masuk sorga jika menilai perbuatan tercela tersebut halal dilakukan.Walhasil,
para ulama tidak memahami hadits di atas secara tekstual tapi menafsirkannya
dengan bermacam-macam penafsiran yang sesuai.”
Hadits di atas yang menjelaskan
bid’ah termasuk dalam kategori ini. Keumuman-keumuman hadits dan
keadaan-keadaan sahabat memberi kesimpulan bahwa bid’ah yang dimaksud adalah
bid’ah tercela yang tidak berada dalam naungan prinsip umum. Dalam sebuah
hadits dijelaskan :
من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها
إلى يوم القيامة
"Siapapun yang mengawali tradisi yang terpuji maka ia memperoleh pahala
darinya dan dari pahala mereka yang mengamalkannya sampai hari kiamat."
Kemudian dalam hadits yang lain :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين
"Berpegamg teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin
sesudah wafat." ‘Umar ibn Khaththab RA berkomentar mengenai sholat
tarawih : (نعمت البدعة هذه) sebaik-baik
bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjama’ah dalam satu masjid dengan
seorang imam).
PERBEDAAN PASTI ANTARA BID’AH SYAR’IYYAH DAN BID’AH LUGHAWIYYAH
Sebagian ulama mereka mengkritik
pengklasifikasian bid’ah dalam bid’ah terpuji dan tercela. Mereka menolak
dengan keras orang yang berpendapat demikian. Malah sebagian ada yang
menuduhnya fasik dan sesat disebabkan berlawanan dengan sabda Nabi yang jelas :
Setiap bid’ah itu sesat. Teks hadits
ini jelas menunjukkan keumuman dan menggambar–kan bid’ah sebagai sesat.
Karena itu Anda akan melihat ia berkata : Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan : akan datang seorang mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan sebagian lagi buruk. Berangkat dari pandangan ini banyak masyarakat terpedaya. Mereka ikut berteriak dan ingkar serta memperbanyak jumlah orang-orang yang tidak memahami tujuan-tujuan syari’ah dan tidak merasakan spirit agama Islam.
Tidak lama kemudian mereka terpaksa menciptakan jalan untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi dan kondisi zaman yang mereka hadapi juga menekan mereka. Mereka terpaksa menciptakan perantara lain. Yang jika tanpa perantara ini mereka tidak akan bisa makan, minum dan diam. Malah tidak akan bisa mengenakan pakaian, bernafas, menikah serta berhubungan dengan dirinya, keluarga, saudara dan masyarakatnya.
Perantara ini ialah ungkapan yang dilontarkan dengan jelas : Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi dua ; (1) bid’ah diiniyyah (keagamaan) dan (2) bid’ah duniawiyyah (keduniaan). Subhanallah, mereka yang suka bermain-main ini membolehkan menciptakan klasifikasi tersebut atau minimal telah membuat nama tersebut. Jika kita setuju bahwa pengertian ini telah ada sejak era kenabian namun pembagian ini, diiniyyah dan duniawiyyah, sama sekali tidak ada dalam era pembuatan undang-undang kenabian. Lalu dari mana pembagian ini? dan dari mana nama-nama baru ini datang ?
Orang yang berkata bahwa
pembagian bid’ah ke yang baik dan buruk itu tidak bersumber dari Syari’, maka
saya akan menjawabnya bahwa pembagian bid’ah ke bid’ah diiniyyah yang tidak bisa diterima dan ke duniawiyyah yang
diterima, adalah tindakan bid’ah dan mengada-ada yang
sebenarnya. Rasulullah SAW sebagai Syari’ bersabda, “Setiap bid’ah itu sesat. Demikianlah beliau mengatakannya secara
mutlak. Sedang ia mengatakan tidak, tidak, tidak semua bid’ah itu sesat. Tetapi
bid’ah terbagi menjadi dua bagian ; diiniyyah
yang sesat dan duniawiyyah yang tidak
mengandung konsekuensi apa-apa. Karena itu harus kami jelaskan di sini
sebuah persoalan penting yang dengannya banyak keganjilan akan menjadi jelas,
insya Allah.
Dalam persoalan ini yang berbicara adalah Syari’ yang bijak. Lisan syari’ adalah lisan syar’i. Maka untuk memahami ucapannya harus menggunakan standar syar’i yang dibawa Syaari’. Jika Anda telah mengetahui bahwa bid’ah pada dasarnya adalah setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya maka jangan sampai lenyap dari hatimu bahwa penambahan dan pembuatan yang tercela di sini adalah penambahan dalam urusan agama agar tambahan itu menjadi urusan agama, dan menambahi syari’at agar tambahan itu mengambil bentuk syari’ah. Lalu akhirnya tambahan itu menjadi syari’at yang dipatuhi yang dinisbatkan kepada pemilik syari’ah. Bid’ah model inilah yang mendapat ancaman dari Nabi SAW :
من أحدث في أمرنا هذا
ما ليس منه فهو رد
"Barangsiapa menciptakan
dalam urusan (agama) kami (في أمرنا هذا), hal baru yang bukan (ما ليس) bagian darinya (منه),
maka ia tertolak."
Garis pemisah dalam tema hadits
ini adalah kalimat (في أمرنا هذا). Oleh karena itu pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah
yang baik dan buruk dalam persepsi kami hanya berlaku untuk pengertian bid’ah
yang ditinjau dari segi bahasa. Yakni, sekedar menciptakan hal baru. Kami semua
tidak ragu bahwa bid’ah dalam kacamata syara’ tidak lain adalah sesat dan
fitnah yang tercela, tidak diterima, dan dibenci. Jika mereka yang menolak
memahami penjelasan bisa memahami penjelasan ini maka akan tampak bagi mereka
bahwa titik temu dari perbedaan itu dekat dan sumber persengketaan itu jauh. Untuk
lebih mendekatkan beberapa pemahaman, saya melihat mereka yang mengingkari
pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah, sebenarnya mengingkari
pembagian bid’ah dalam tinjauan syara’, dengan bukti mereka membagi bid’ah
dalam bid’ah diiniyyah dan duniawiyyah, dan penilaian mereka bahwa
pembagian ini adalah sebuah keniscayaan.
Mereka yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan sayyi’ah memandang bahwa pembagian ini dikaitkan dengan tinjauan bid’ah dari aspek bahasa. Sebab mereka mengatakan bahwa penambahan dalam agama dan syari’at adalah kesesatan dan perbuatan amat tercela. Keyakinan semacam ini tidak diragukan lagi di mata mereka. Dari dua cara pandang yang berbeda ini berarti perbedaan antara dua kelompok ini tidaklah substansial.
Hanya saja saya melihat bahwa
kawan-kawan yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sayyi’ah dan
yang berpendapat terbaginya bid’ah menjadi bid’ah diiniyyah dan duniawiyyah
tidak mampu menggunakan ekspresi bahasa dengan cermat. Hal ini disebabkan
ketika mereka memvonis bahwa bid’ah diiniyyah
itu sesat, –ini adalah pendapat yang benar– dan bid’ah duniawiyyah tidak ada konsekuensi apapun, mereka telah keliru dalam
menetapkan hukum. Sebab dengan sikap ini mereka memvonis semua bid’ah duniawiyyah itu boleh. Sikap ini jelas
sangat berbahaya dan bisa menimbulkan fitnah dan bencana. Karena itu, persoalan
ini wajib dan mendesak untuk dijelaskan secara mendetail.
Yakni mereka mengatakan bahwa bid’ah duniawiyyah ada yang baik dan ada yang buruk sebagaimana fakta yang terjadi, yang tidak diingkari kecuali oleh orang buta yang bodoh. Penambahan kalimat ini harus dilakukan. Untuk mendapatkan pengertian yang tepat, cukuplah kita menggunakan pendapat orang yang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Yang dimaksud bid’ah di sini sudah jelas adalah bid’ah dari aspek bahasa sebagaimana telah dipaparkan di atas. Bid’ah dalam pengertian inilah yang dikatakan dengan bid’ah duniawiyyah oleh mereka yang ingkar terhadap pembagiannya menjadi hasanah dan sayyiah.
Yakni mereka mengatakan bahwa bid’ah duniawiyyah ada yang baik dan ada yang buruk sebagaimana fakta yang terjadi, yang tidak diingkari kecuali oleh orang buta yang bodoh. Penambahan kalimat ini harus dilakukan. Untuk mendapatkan pengertian yang tepat, cukuplah kita menggunakan pendapat orang yang berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Yang dimaksud bid’ah di sini sudah jelas adalah bid’ah dari aspek bahasa sebagaimana telah dipaparkan di atas. Bid’ah dalam pengertian inilah yang dikatakan dengan bid’ah duniawiyyah oleh mereka yang ingkar terhadap pembagiannya menjadi hasanah dan sayyiah.
Pendapat bid’ah terbagi menjadi
hasanah dan sayyiah adalah pendapat yang sangat cermat dan hati-hati. Karena
pendapat ini mengumandangkan kepada setiap hal baru untuk mematuhi hukum
syari’at dan kaidah-kaidah agama, dan mengharuskan kaum muslimin untuk
menyelaraskan semua urusan dunia, baik yang bersifat umum atau khusus, sesuai
dengan syariat Islam, agar mengetahui hukum Islam yang terdapat di dalamnya,
betapapun besarnya bid’ah itu. Sikap semacam ini tidak mungkin direalisasikan
kecuali dengan mengklasifikasikan bid’ah dengan tepat dan telah mendapat
pertimbangan dari para aimmatul ushul. Semoga Allah meridloi para aimmatul
ushul dan meridloi kajian mereka terhadap lafadz-lafadz yang shahih dan
mencukupi yang mengantar menuju pengertian-pengertian yang benar, tanpa
pengurangan, perubahan atau interpretasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar